Jumat, 03 Desember 2010

TRICO G

TRICO G
BIO KOMPLEK

BIO-KOMPLEK merupakan formulasi dari mikroflora Bio-katalisator dan Bio-antagonis penyakit tanaman, hasil penelitian Bio-teknologi terbaru.
Manfaat Trico-G:
1. Mencegah penyakit rebah kecambah.
2. Meningkatkan ketegaran bibit.
3. Mencegah serangan penyakit layu.
4. Mempercepat pemasakan pupuk kandang.
5. Meningkatkan kesuburan tanah.
Cara penggunaan:
1. Campurkan 1 sendok makan TRICO-G dalam 10 liter air, siramkan ke bedengan sebelum biji disemai, diulang setelah 7 - 10 hari.
2. Campurkan 0,5 kg - 1 kg TRICO-G ke 1 - 2 ton pupuk kandang, sementara untuk pupuk kandang yang di dalam karung diberikan 1 - 2 sendok makan TRICO-G dicampurkan dengan 1 gelas air, kemudian disiramkan ke dalam karung, peram selama 2-3 minggu.
3. Dapat dicampur pupuk NPK untuk dikocorkan.

BY.AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

STIMAX

STIMAX (Chitosan)

Bahan aktif: Chitosan
STIMAX merupakan bahan organik alami yang mengandung chitosan dan dihasilkan dari bahan-bahan yang berasal dari laut.
Chitosan yang diserap oleh tanaman akan menghasilkan enzym chitinase dan berfungsi sebagai antibodi.
Manfaat STIMAX adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit.
2. Prosentase bibit tanaman yang terserang rebah kecambah atau akar gada dapat ditekan seminimal mungkin.
3. Menghambat perkembangbiakan nematoda yang sangat merugikan perakaran.
4. Meningkatkan produksi dan pasca panen akan lebih kuat.
Cara Penggunaan:
1. Perendaman Biji
1-2 cc STIMAX dilarutkan dalam 1 liter air. Biji direndam kira-kira 30 menit.
Kemudian ditiriskan/kering angin sehingga siap ditanam.
2. Penyiraman Tanah
2-4 cc STIMAX dilarutkan dalam 1 liter air. Setelah biji disebar di tanah/polibag kemudian tanah disiram air secukupnya.
Segera diikuti dengan penyiraman larutan STIMAX, diulang tiap 5-7 hari 1x.
Dapat diberikan juga pada saat pindah tanam dan masa pertumbuhan.
3. Penyemprotan
2-4 cc STIMAX dilarutkan dalam 1 liter air. Disemprotkan ke pembibitan, atau tanaman muda diulang tiap 5-7 hari 1x.
Sasarannya:
Meloidogyne sp (Nematoda)
Plasmodiophora brassicae (Akar Gada)
Pythium sp (Rebah Kecambah)
Rhizoctonia solani
Fusarium sp

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

PRIMATON

PRIMATON
PEREKAT, PEMBASAH DAN PERATA

Bahan Aktif: Polythylene glycol monoether
- Cepat kering, irit, dan rata
- Tahan lama, daun mengkilat
Bahan Perekat, Pembasah dan Perata nonionik berbentuk cairan berwarna ungu, larutan sempurna dalam air dan berguna untuk meningkatkan daya rekat butiran semprot pestisida pada permukaan daun dan permukaan kulit hama.
PRIMATON dapat dicampur dengan Insektisida, akarisida, fungisida yang bersifat agak asam, netral, dan agak basa. Dianjurkan untuk tanaman yang daunnya berlilin atau berbulu dan dapat mencegah pencucian akibat air hujan atau air siraman.
Anjuran penggunaan:
0,25 cc - 0,5 cc / liter air

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

PRIMASIL

PRIMASIL
PUPUK PELENGKAP CAIR (PPC)

Primasil adalah pupuk pelengkap cair yang mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap yang berguna untuk pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman lebih subur, daun hijau segar, batang kekar dan hasil akan meningkat.
Primasil dapat dicampur dengan pestisida.
Manfaat Primasil:
- Mempercepat pertumbuhan tanaman
- Meningkatkan hijau daun
- Menaikkan hasil tanaman
- Mempercepat pembesaran buah
Anjuran:
- 0,5 - 1 cc/ltr air
- Mulai umur 2 minggu atau periode vegetatif.
- Selang waktu 7 hari 1x
Dapat dipakai untuk tanaman spinach, pakchoy, seledri, broccoli, kentang, tomat, cabe, bawang merah, bawang putih, kubis, sawi, apel, jeruk, kopi, lada, semangka, melon, kedele, padi, dll.

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

PRIMAGRO MERAH

PRIMAGRO MERAH

Unsur-unsur mikro: Fe, Mn, Cu, Zn, B, Mo, Mg + Vitamin
Kegunaan:
- Untuk merangsang pembungaan
- Untuk mencegah kerontokan bunga
- Untuk memperkuat perakaran
Anjuran pemakaian:
Larutkan 1,5 gr - 2 gr/liter air kemudian semprotkan ke seluruh permukaan daun sampai merata. Dianjurkan penyemprotan pagi hari (setelah embun kering) atau sore hari. Tiap 7-10 hari sekali. Dapat dicampur pestisida.

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

PRIMAGRO HIJAU

PRIMAGRO HIJAU

Unsur-unsur mikro: Fe, Mn, Cu, Zn, B, Mo, Mg + Vitamin
Kegunaan:
- Untuk meningkatkan kesuburan
- Untuk mempercepat pertunasan
- Untuk memperbanyak anakan
Anjuran pemakaian:
Larutkan 1,5 gr - 2 gr/liter air kemudian semprotkan ke seluruh permukaan daun sampai merata. Dianjurkan penyemprotan pagi hari (setelah embun kering) atau sore hari. Tiap 7-10 hari sekali. Dapat dicampur pestisida.

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

GLUMON

GLUMON
PEREKAT SERANGGA

GLUMON adalah sejenis bahan perekat berwarna kuning kemerahan yang mempunyai daya tarik dan daya rekat terhadap serangga (lalat buah jantan dan betina, lalat daun, thrip, tungau, kutu kebul, kupu-kupu, dll), tetapi tidak beracun bagi manusia dan hewan.
Manfaat GLUMON:
1. Monitoring serangga-serangga dewasa yang hidup di sekitar lahan budi daya tanaman kita.
2. Mengurangi secara signifikan (nyata) serangga-serangga dewasa yang merugikan.
3. Tahan lama dan tidak cepat kering baik di musim hujan ataupun di musim kemarau.
4. Mudah cara aplikasinya.
Cara Penggunaan:
- Oleskan GLUMON pada botol-botol putih bekas yang telah dicuci bersih secara merata.
- Gantungkan atau pasang di sekitar lahan budi daya dengan tinggi pemasangan disesuaikan dengan tinggi tanaman kita.
- Tempatkan botol-botol putih yang telah diolesi GLUMON dengan jarak 10-20 meter diperkirakan antara 15-25 botol untuk per hektarnya.
- Saat pemolesan dapat dilakukan tiap 2-3 minggu sekali tergantung dari banyak sedikitnya serangga yang sudah melekat.
- Botol yang penuh serangga dapat dicuci dengan minyak goreng bekas atau bensin sehingga dapat diolesi lagi setelah bersih.
- Waktu pemasangan dimulai saat tanaman mulai membentuk buah dan secara teratur digantikan sampai selesai panen.
- Dianjurkan digunakan untuk tanaman cabai, melon, semangka, mangga, belimbing, apel, nangka, jambu, bawang merah, tomat, dan tanaman buah-buahan yang lainnya.

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

BIOSEA

BIOSEA
EKSTRAK RUMPUT LAUT
Kandungan :
- Total Bahan Organik : 20 %
- Amino acid : 3 - 5 %
- N (Nitrogen) : 5 - 6 %
- K2O (Kalium) : 5 - 6 %
- Unsur-unsur Mikro
Manfaat BIOSEA:
1. Menambah kesuburan tanah
2. Merangsang perkembangan akar
3. Mempercepat pertumbuhan
4. Meningkatkan ketahanan tanaman
5. Menaikkan hasil panen
6. Meningkatkan daya simpan buah
Anjuran Penggunaan:
- 2-4 cc BIOSEA dicampur 1 liter air. Untuk disiramkan (dikocorkan) pada saat di pesemaian/pembibitan pada saat pindah tanam dan masa pertumbuhan/pembesaran buah. Dapat dicampur dengan pupuk N, P, K atau pupuk KNO3
- Untuk tanaman di pesemaian, tanaman yang baru dipindah tanam, tanaman yang masih muda dapat juga disemprotkan bersama dengan pupuk daun, insektisida, fungisida, dll. Pencampuran 2 cc per liter air dan diberikan sekitar 5-7 hari 1x.

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

AJIB

AJIB
ZAT PENGATUR TUMBUH

AJIB merupakan kombinasi dari senyawa golongan AUXIN (Heterocyclic C 10 EC) yang telah diatur stabilitasnya.
Dari hasil pengujian di beberapa tanaman di Indonesia telah terbukti bahwa AJIB dapat berfungsi sebagai:
1. Mempercepat pertumbuhan tanaman.
2. Mencegah kerontokan bunga dan meningkatkan prosentase bunga yang menjadi buah.
3. Meningkatkan daya penyerapan unsur hara di dalam tanah.
4. Meningkatkan pembentukan hijau daun (Chlorophyl).
5. Meningkatkan daya tahan terhadap penyakit.
6. Menaikkan berat buah, keseragaman umbi dan ketahanan diangkut jarak jauh.
Anjuran Pengunaan:
Konsentrasi 0,5 - 1,0 cc per liter air
Jumlah larutan per hektar : 300 - 600 liter air
Frekuensi penyemprotan tiap 2 - 4 minggu sekali
Saat penyemprotan sebaiknya pagi atau sore hari
Dapat dicampur dengan insektisida, fungisida, dan pupuk daun kecuali yang bersifat alkali

BY. AAN STREKERS
Staf Sumatera Utara (Langkat dan Binjai)

STAF PRIMASID SUMATERA UTARA (LANGKAT DAN BINJAI)

Minggu, 11 Januari 2009

Arah Pembangunan Pertanian


Pembangunan Pertanian Menyelamatkan
Kesejahteraan Petani dan Masyarakat Desa
(Sebuah Tantangan Besar)

Oleh: Prof. Drs. Mr.A'An Naroh, S.st
Alamat email and wabsite :
bystrekermraanmedancity@gmail.com
streker_s@yahoo.co.id
http://www.friendster.com/bystrekermraanmedancity
http://www.streker_s.frendsdiplay.com
http://www.bystrekermraanmedancity.blogspot.com
http://www.bystrekermraanjogjacity.blogspot.com
hp. 085292369440

I.Pendahuluan

Pembangunan pertanian adalah salah satu masalah yang sampai saat sekarang ini belum dapat teratasi karena rendahnya tingkat pendidikan petani. Dengan demikian harapan semua masyarakat beserta pemerintah agar pembangunan pertanian dapat berubah menjadi lebih baik juga dapat mensejahterakan pelaku-pelaku pertanian terutama keluarga tani. Pembangunan pertanian di Indonesia dimulai pada tahun 1960-an, sebagai pilihan kondisi saat itu dimana kita kekurangan pangan akibat situasi ekonomi politik yang tidak menguntungkan dan ledakan penduduk yang luar biasa., yang dipikirkan saat itu adalah bagaimana menekan jumlah penduduk dan mencukupi kebutuhan pangan secara nasional. Pembangunan pertanian saat itu dibangun dengan mengadopsi model yang sedang berkembang di berbagai belahan dunia, dimana model pertanian harus dirubah secara total. Pertanian tradisional dianggap tidak layak lagi karena yang dibutuhkan adalah ketersediaan pangan dalam jumlah besar dan cepat. kebutuhan pangan ini muncul seiring dengan banyaknya perusahaan multinasional yang mendirikan pabrik pestisida dan pupuk kimia, serta benih-benih hibrida baik yang diproduksi perusahaan maupun dari pusat-pusat penelitian internasional (misalnya IRRI). Di samping itu ada tawaran hutang dari lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia (World Bank), IMF, dll.

II.Perubahan Ekonomi

Sejak saat itulah terjadi perubahan besar-besaran di tingkat petani dan lingkungannya, dimana saat itu petani yang tidak pernah menggunakan benih hibrida, pupuk kimia dan pestisida, dipaksa menggunakannya. Lahan yang biasa diolah dengan menggunakan ternak, dipaksa diolah dengan traktor dan mesin lainnya. Waduk-waduk dibangun untuk mencukupi kebutuhan air sepanjang tahun. Infrastruktur desa seperti jalan, pasar, KUD juga dibangun untuk mempermudah penjualan produk pertanian mereka serta dalam rangka penyaluran kredit.
Dampaknya tentu sangat luar biasa, baik dampak dari segi social dan segi ekonomi. Ketersediaan pangan terutama beras melimpah, bahkan tahun 1987 Indonesia dinyatakan berswasembada beras. Pola makanan pokok masyarakat Indonesia beralih ke beras. Penggunaan bahan-bahan atau pun barang-barang dari luar yang merupakan produk pabrikan ternyata merusak struktur tanah, lingkungan tercemar, polusi air bahkan beragam mikroba tanah musnah. Penggunaan alat mekanisasi pertanian menyebabkan akses ekonomi perempuan hilang. Pembangunan waduk menggusur tanah-tanah milik rakyat, dsb.
Dampak utama pembangunan pertanian konvensional yang berjalan hampir 40 tahun ini adalah terpuruknya kehidupan petani. Petani yang diandalkan sebagai aktor utama penyangga ketersediaan pangan nasional, ternyata tingkat kesejahteraan ekonominya tidak lebih baik. Angkatan kerja muda pertanian hilang karena banyak di antara mereka pindah (urbanisasi) ke kota, beralih profesi menjadi buruh pabrik atau bangunan, pembantu rumah tangga, hingga menjadi pekerja migran ke luar negeri. Tidak ada generasi muda yang mau (bercita-cita) menjadi petani.

III.Perubahan Sosial

Kerusakan-kerusakan struktur tanah, polusi air, pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk dan pestisida buatan pabrik menghasilkan produk-produk pertaniannya mengandung racun. Kesehatan manusia (konsumen) terancam. Berbagai penyakit yang diderita masyarakat sebagai akibat penggunaan pupuk dan pestisida pabrik adalah munculnya penyakit-penyakit baru yang dulu tidak ada, misalnya kanker, bayi lahir mati (infant mortality) atau lahir cacat, dan lain sebagainya. Kenyataan ini memicu kesadaran orang untuk mencari alternatif pangan yang lebih sehat. Pertanian lestari menjadi pilihan utama dan muncul sebagai gerakan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) pada awal 1990-an.
Munculnya gerakan ini semula dipelopori oleh para pecinta lingkungan yang khawatir terjadi kerusakan alam secara terus menerus akibat penggunaan bahan-bahan kimia, juga punahnya berbagai keanekaragaman hayati dimuka bumi. Gerakan ini mendorong perubahan dalam praktek-praktek usaha tani. Penggunaan bahan-bahan kimia (pupuk dan pestisida) dikurangi, kembali ke cara-cara tradisional yang menghargai potensi lokal, menempatkan petani sebagai subyek pertanian, mengelola usaha tani sesuai dengan budaya dan lingkungan setempat, serta mengupayakan perdagangan yang adil (fair trade). Upaya-upaya perubahan pola pertanian ini sangat bergantung pada kepentingan petani, apakah secara pelan atau secara total. Pendekatan perubahan ini banyak ragamnya, tergantung pada fokus pembelajarannya. Gerakan perubahan pola pertanian yang selaras alam dan lestari banyak dimotori oleh penggiat LSM Lingkungan, Peneliti dan Akademisi, juga oleh petani sendiri. Beragamnya pola pendekatan dan strategi yang dikembangkan menjadikan gerakan ini sangat populer. Banyak donor yang ikut mendukung terwujudnya gerakan ini.
Pendekatan dan strategi yang dikembangkan dalam model pertanian berkelanjutan ini dilakukan dengan cara mendorong tumbuhnya sumber-sumber pendapatan keluarga petani di pedesaan tanpa harus merubah budaya kehidupan yang sudah dikenalnya sejak lahir yakni pertanian. Strategi yang banyak dikembangkan mencakup 2 hal yakni on farm (di lahan pertanian) dan off farm (di luar lahan pertanian). Model on farm yang dikembangkan tidak harus kembali pada model tradisi-onal yang sudah ada sejak dulu, namun perlu disesuaikan dengan situasi lingkungan yang sudah berubah, juga kebutuhan (pangan dan ekonomi) yang semakin besar. Kedua model ini memadukan beragam cara agar petani mempunyai kesempatan memperoleh pendapatan dari berbagai sumber (diversifikasi usaha).
Model pertanian berkelanjutan ini juga muncul sebagai upaya untuk menjawab berbagai persoalan yang ditimbulkan sebagai dampak Revolusi Hijau. Re-volusi hijau memang diciptakan untuk mengantisipasi kekurangan pangan di seluruh dunia yang terjadi pada sekitar tahun 1960-an, karena ledakan jumlah penduduk, kemiskinan dan kelaparan di berbagai negara akibat perang.
Revolusi hijau dimodali oleh korporasi international (TNC/MNC) di bidang pertanian dan berhasil menangguk keuntungan yang luar biasa besar. Mereka menanamkan modal besar untuk mendorong munculnya pusat penelitian tanaman pangan di berbagai negara, mengambil benih lokal petani untuk dijadikan benih baru dan kemudian dipatenkan. Untuk menanam benih baru supaya menghasilkan panen yang optimal, harus menggunakan pupuk dan pestisida. Gen (benih) yang digunakan untuk menghasilkan varietas tanaman baru memang dipilih yang bersifat rakus pupuk dan pestisida. Pemilik pabrik benih, pupuk dan pestisida adalah perusahaan yang sama. Tercatat di tahun 2000, ada 6 perusahaan kimia pertanian terbesar yaitu Sygenta, Monsanto, Dupont, Aventis, BASF dan Down Chemical Co mampu mengeruk keuntungan lebih dari US $ 20.422 juta dari penjualan bahan kimia pertanian, dan US $ 4.836 juta dari benih dan pangan transgenik. Bahkan perusahaan tersebut akan terus mengeruk keuntungan dari petani dan masyarakat dengan janji bahwa pertanian dengan tehnologi tinggi akan memberikan hasil panen yang lebih tinggi serta berkualitas, tahan serangan hama penyakit, dan mampu menghasilkan produksi tinggi. Revolusi hijau selalu dipakai sebagai alat promosi keamanan pangan dan kesejahteraan petani hingga saat ini.
Prinsip pengelolaan pertanian berkelanjutan adalah multikultur, menghargai keanekaragaman hayati, menghargai kearifan lokal, memanfaatkan bahan-bahan lokal, tidak bergantung bahan luar, tidak mengekploitasi alam serta sesuai budaya dan pilihan serta kemampuan petani. Prinsip-prinsip tersebut menumbuhkan beragam model pertanian berkelanjutan di berbagai belahan dunia. Petani kecil yang seringkali mempunyai keterbatasan dalam mengakses sarana dan prasarana produksi pertanian, melalui pertanian lestari mempunyai peluang yang luas dalam memba-ngun usaha pertaniannya. Kepercayaan petani kembali tumbuh karena bisa membuat keputusan sendiri terhadap usaha taninya serta mampu membuat benih pupuk dan pestisida sendiri, mempunyai organisasi serta jaringan antar petani.



Pelatihan

KONTRIBUSI STRATEJIK MSDM BAGI KEBERHASILAN ORGANISASI

Oleh: Naroh
Praktik MSDM dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Khususnya dengan cara dimana kontribusi dilakukan, termasuk:
Mengembangkan kontrak psikologis yang positif
Meningkatkan kontribusi dan komitmen.
Meningkatkan keterampilan karyawan dan memperluas dasar keterampilan.
Memberikan karyawan tanggung jawab yang diperluas sehingga dapat memanfaatkan kemempuan dan keterampilan mereka secara penuh.
Mengemukakan peluang karier serta menetapkan permintaan akan kompetisi.
Melembagakan proses manajemen kiinerja dan pengembangan yang berkelanjutan.
Menggunakan manajemen imbalan untuk menyampaikan pesan mengenai apa yang dipercaya organiasasi sebagai hal yang peting
Mengembangkan strategi hubungan karyawan yang memberikan preferensi kepada karyawan.

KONTRIBUSI UNTUK NILAI TAMBAH
Fungsi MSDM memberikan kontribusi untuk menciptakan nilai tambah dengan memastikan bahwa tersedia karyawan dengan kompetensi dan dan tingkat motivasi yang diperlukan dan dengan membantu menciptakan suatu budaya dan linkungan yang merangsan kinerja yang berkualitas. Suatu pendekatan nilai tambah untuk SDM akan diarahkan secara pasti guna memperbaiki motivasi, komitmen, keterampilan, kinerja dan kontribusi karyawan.

Mendapatkan Nilai Tambah 
Terdapat empat fungsi SDM yang dapat menambah nilai.
1.Memfasilitasi perubahan dan dengan mengusulkan strategi serta program untuk mngembangkan suatu kualitas yang lebih pasti.
2.Membuat suatu kontribusi yang spesifik dalam bidang perencanaan sumberdaya manusia, penyumberdayaan, pelatihan dan pengembangan, manajemen kinerja, imbalan dan hubungan karyawan.
3.Memastikan bahwa inisiatif SDM apapun dalam bidang pelatihan dan pengembangan yang diperlakukan seperti investasi yang akan memberikan nilai atas uang.
4.Menyampaikan pelayanan SDM yang efektif biaya, yaitu memberikan nilai atas uang.


KONTRIBUSI UNTUK KEUNGGULAN KOMPETITIF
Menurut Porter tiga dari factor yang terpenting adalah inovasi, kualitas dan kepemimpinan biaya. Salah satu kunci untuk keunggulan kompetitif adalah kemampua untuk membedakan apa yang dipasok oleh bisnis kepada pelanggannya dari yang dipasok oleh pesaing.
Keunggulan kompetitif diperoleh dengan mengembangkan kompetensi dasar dalam tenaga kerja melalui pelayanan tradisional dan mengatasi secara efektif masalah makro seperti budaya korporasi, pengembangan manajemen dan organaisasi.

DAMPAK MSDM PADA KINERJA BISNIS
Hasil proyek penelitian utama mengenai MSDM dan kinerja organiasi disimpulkan dibawah ini:
Menurut Arthur (1990, 1992, 1994) 
strategi kotrol mendorong kesepakatan karyawan, melalui peraturan dan prosedur, sedikit partspasi karyawan, sedikit pelaihan umum, upaya yang rendah dan suatu bagian yang besar bagi karyawan pada skema bonus. Dalam strategi komitmen, fokusnya adalah: pada pembentukan perilaku karyawan dengan menciptakan hubungan psikologis antara sasaran organiasasi dan karyawan, partisipasi karyawan dalam jumlah sedang, pelatihan umum dalam jumlah sedang, upah yang tinggi, dan lebih sedikit karyawan dari pada skema bonus atau insentif.
Huselid (1995)
Secara umum dia menemukan bahwa parusahaan ditingkat praktik kerja kinerja tingginya, hasilnya adalah pengurangan pergantian karyawan secara signifikan dan peningkatan dalam produktifitas dan hasil secara signifikan. Tiga hipotesa yang dia uji adalah hilangnya pergantian karyawan, produktivitas yang meningkat dan kinerja yang finansial korporasi.
Variable dependennya adalah nilai tahunan rata-rata dari pergantian tenaga kerja; penjualan per-karyawan, dan kinerja keuangan korporasi seperti diukur oleh keuntungan ekonomis. 
Backer, Huselid, Pickus dan Spartt (1997)
Para penulis ini menyimpulkan dari sejumlah proyek penelitian megenai hubungan antara SDM dan kinerja perusahaan yang dilaksanakan atau terkait dengan SDM. Fokusnya adalah dampak stratejikterhadap nilai pemegang saham dari high-performance work system (HPWS) (system kerja kinerja tinggi).
Patterson, West, Lawthom dan Nikel (1997)

Hasil telah diekspresikan dalam pengertian variasi persentase dalam kinerja yang diakibatkan oleh suatu factor tertentu, yaitu:
Kepuasan jabatan dijelaskan oleh 5 % dari variaasi antara perusahaan dalam perubahan profitabilitas dan 16 % dari variasi dalam produktifitas.
Budaya organisasi dijelaskan oleh 10 % dari variasi dalam profitabilitas dan 29 % dari variasi dalam produktifitas.
Praktik manajemen sumber daya manusia dijelaskan oleh 19 % dari variasi dalam profitabilitas dan 18 % dari variasi dalam produksi.

PERAN STRATEJIK DARI FUNGSI SDM
FILOSOFI
Filosofi dari CIBA seperti yang didiskripsikan oleh Morton (1999) adalah:
Perbaikan kwalitas yang tergantung pada karyawan berkwalitas tinggi.
Retensi staf adalah penting untuk mendukung pertumbuhan.
Keseimbangan motivasi dan pengurangan biaya memerlukan pertimbangan yang jelas mengenai strategi imbalan yang memiliki dampak maksimal.
Teknologi SDM baru dapat digunakan untuk menghasilkan efisiensi proses dan biaya control.
Spesialis SDM akan menjadi orang yang ahli dalam suatu tim konsultan internal dari pada anggota hierarki gaya lama.

SPESIALIS SDM SEBAGAI REKANAN STRATEJIK
Urich (1998) mengemukakan bahwa pandangan ekskutif SDM harus: mendorong dan memandu diskusi yang serius mengenai bagaimana perusahaan seharusnya harus diorganisasikan untuk melaksanakan stratejik.
Jawaban yang harus didapat untuk enam pertanyaan yaitu:
1.Pola piker bersama 
2.Kompetensi 
3.Konsekuensi
4.Pengaturan 
5.Kapasitas
6.Kepemimpinan

SDM SEBAGAI SEORANG REKANAN BISNIS
Empat peran SDM sebagai rekan bisnis seperti telah didefinisikan oleh morton (1999) yaitu:
1.Rekan stratejik ----mengelola sumberdaya manusia stratejik.
2.Agen perubahan --- mengelola transformasi dan perubahan.
3.Ahli administrator ---- mengelola infrastruktur perusahaan.
4.pejuang karyawan --- mengelola kon tribusi karyawan.

PERAN – PERAN UTAMA
1.Peran ahli strategi
Ahli strategi SDM bertujuan untuk mencapai integrasi dan kesesuaian stratejik.
2.Peran rekan bisnis
Praktisi SDM dalam peran mereka sebagai rekanan bisnis tahu akan strategi bisnis dan peluang serta ancaman yang dihadapi organisasi.
3.Peran inovator
Pendekatan stratejik untuk MSDM berarti spesialis SDM akan ingin melakukan inovasi untuk memperkenalkan proses baru dan prosedur yang mereka percaya akan meningkatkan keefektifan organisasi. 
4.Peran menejer perusahaan
Organisasi secara berhasil mengelola perubahan adalah organisasi yang telah mengintegrasikan kebijakan manajemen sumberdaya dengan strategi dan proses perubahan stratejik. 

KECAKAPAN SDM
Tiga kompetensi staf SDM yang harus dimiliki jika mereka ingin untuk berfungsi sebagai rekan bisnis stratejik adalah:
1.Paengetahuan mengenai bisnis
Kapabilitas stratejik
Kapabilitas financial
Kapabilitas teknologi
2.Pengetahuan mengenai praktik SDM 
Penyusunan staf
Pengembangan
Penilaian
Imbalan
Desain organisasi
Komunikasi
3.Manajemen perubahan.
Pengetahuan akan proses perubahan
Keterampialan sebagai agen perubahan
Kemampuanuntuk menghasilkan perubahan

PERAN STRATEJIK DIREKTUR SDM
Direktur SDM memiliki peran utama dalam MSDM stratejik, terutama mereka seperti yang seharusnya berada pada dewan direksi. Direktur sdm yang kemungkinan besar akan memainkan peran stratejik secara penuh sebagai rekan bisnis, yang kemungkinan akan:
Merupakan bagian sangat besar dari tim manajemen puncak
Dilibatkan dalam perencanaan bisnis dan integrasi rencana sumberdaya manusia dengan rencana bisnis.
Ditempatkan dengan baik untuk memberikan pengaruh dalam pengoraganisasian.
Cakapan secara professional dalam teknik SDM.
Dimasukan dalam penyumberdayaan pada tingkat puncak dan senior sehingga berada dalam posisi yang kuat untuk memperbaiki keefektifan organisasi.
Mengetahui kebutuhan untuk mengembangkan visi mengenai apa yang harus dilakukan oleh funsi SDM.
Sebagai orang yang memberi izin dan fasilitator.
Pada dasarnya merupakan ahli pragmatis yang tahu mengenai teori MSDM.
Hebat pada penetapan dan pencapaian hal yang dapat didistribusikan.


Insektarium

Oleh: Naroh

Nama Latin : Oryctes rhinoceros

Nama Daerah : Kumbang Badak
Ordo : Coleoptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Ragil Aji Subarkah

Nama Latin : Oryctes rhinoceros
Nama Daerah : Kumbang Badak
Ordo : Coleoptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Naroh

Nama Latin : Oryctes rhinoceros
Nama Daerah : Kumbang Badak
Ordo : Coleoptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Murtiningsih

Nama Latin : Valanga Nigricornis
Nama Daerah : Belalang
Ordo : Orthroptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Karewi Betasano

Nama Latin : Apis mellifera
Nama Daerah : Lebah Penyerbu Bunga
Ordo : Hymenoptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Tri priono

Nama Latin : Hylaeus modestus Say
Nama Daerah : Tawon
Ordo : Hymenoptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Naroh

Nama latin : Apis mellifera
Nama Daerah : Lebah Penyerbu Bunga
Ordo : Hymenoptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Tri Priono

Nama Latin : Ofelia fultoni
Nama Daerah : Lalat
Ordo : Diptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Fathur Rohman
Nama Latin : Dytiscus verticalis
Nama Daerah : Kumbang Ijo
Ordo :Coleoptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Musliadi 

Nama Latin : Geomyzaprinus goffi
Nama Daerah : Kumbang Penarik
Ordo : Coleptera
Lokasi : Lahan STPP
Penemu : Achmad Yusup

Nama Latin : Sandalus pertophya
Nama Daerah : Kumbang Cedar
Ordo : Coleoptera
Lokasi : Kebumen
Penemu : Murtiningsih

Nama Latin : Periplaneta americana 
Nama Daerah : Kecoak
Ordo : Orthroptera
Lokasi : Asrama 
Penemu : Naroh 


Puisi

Oleh: Naroh/Mr.Aan

RINTIHAN HATI

Sejauh mata memandang
Sedekat telinga mendengar
Setahun sudah ku merantau
Demi mencari ilmu dan pengalaman
Waktu yang terus berlalu
Seperti tiada rasa dan kasa
Hidup yang jauh dari keluarga
Bagaikan hidup tanpa cinta
Hati kecil sering berkata
“Apa guna engkau kuliah, kalau engkau tak bekerja jua”
Tiiga tahun belum terlewati
Hati ini gelisah dan sedih
Akan melewati hidup yang susah
Dan menanti datangnya wisudah








BANGSAKU

Negriku….
Negri yang makmur lagi subur
Bangsaku…
Bangsa Indonesia
Hai…putra pertiwi
Sadarkah engkau apa yang engkau lihat
Apa yang engkau dengar
Rintihan orang-orang yang susah
Tangisan anak-anak yang kehilangan ibU / bapaknya
Tidakkah engkau berpikir
Apa yang mereka rasa
Kita yang susah ini masih ada yang lebih susah
Kita senang ini masih ada yang lebih senang
Hai….putra pertiwi
Hanya eangkaulah yang dapat merubah nasip mereka
Bantulah mereka…..
Dan didiklah mereka……..
Demi negri dan bangsa ini.



ALAM

Matahari yang terbit dipagi hari
Embun menetes dari dedaunan 
Angin bertiup menggoyangkan pohon
Percikan air ditepi sungai
Terdengar kicauan suara burung
Terlihat gunung yang indah
Waktu yang terus berlalu
Dikala petang telah datang
Saatnya matahari Akan terbenam
Akan berakhirnya siang
Akan timbulnya malam
Inilah hidup….
Siang berganti malam
Malam berganti siang
Begitulah seterusnya
Dan seterusnya…….






INSAN

Hati yang terluka
Cinta yang membara
Kau tak tahu isi hatiku
Bila mana hati ini berkata
Aku menyayangimu
Hidup hanyalah sekali
Tapi hidup punya arti
Kamana entah kamana
Tangisan isi hati ini
Menanyakan hidup seperti ini
Bulan yang bersinar
Bintang yang terang
Tapi cintaku tak perna menyatu
Hai pujangga
Mengapa engkau buatku begini
Hati adalah jiwa
Jiwa adalah hati
Arti semua ini punya makna dan tanya
Kemana harus ku bawah
Deruta hati yang terluka


KEHANCURAN

Hidup punya arti
Hanya hidup yang membuatku begini
Cinta yang lama kucari
Terhampar tiada arti
Bintang bersinar air mengalir
Ibarat hidup yang berjalan tiada henti
Cinta memang indah
Cinta membawa asmara
Cintalah yang membuatku sensara
Cintalah yang memisahkan diriku dengan dirinya
Tuhan……
Mana yang lebih baik untukku
Mana yang dapat menghiburku
Hanya diam yang ku bawa
Sedih yang ku rasa
Gelisa yang tak berhenti jua






HAMPARAN HATI

Mata yang indah
Seindah permata
Jauh ku memandang
Terasa ia disampingku
Dengar ku mendengar
Suara rintihan hati ini
Hidup yang tak ingin jauh darinya
Hari demi hari
Tapi ia tak mau mengerti
Bulan terus berlalu
Cinta ku tetutup dan terhapus sendirinya
Ya, ALLAH……
Persatukanlah hamba dengannya
Jadikanlah hamba pendampingnya
Seperti engkau jadikan bulan dan bintang
Seperti engkau jadikan awan dan alam
Tapi……..
Diri ini merasa
Seakan-akan jauh darinya
Seolah-olah akan terpisah denganya



Kandungan Pada Buah

Oleh: Naroh
Berbagai jenis asam yang terdapat pada buah-buahan diantaranya adalah sebagai berikut:
A.APEL Mengandung asam oksalik.
B.BELEWAH Kandungan beta-karoten, pro-vitamin A, magnesium, mangan, seng dan krom.
C.JERUK Sari buah jeruk yang banyak mengandung vitamin 
D.NANAS Enzim bromealin.
E.KELENGKENG Buah ini banyak mengandung sukrosa, glukosa, protein, lemak, asam tartaric, vitamin A dan B. 
F.LECI Selain kandungan protein, lemak, vitamin C, fosfor, dan zat besi, buah leci mengandung sukrosa dan glukosa yang melimpah. 
G.KELAPA Air kelapa mengandung sukrosa, fruktosa, dan glukosa, sedangkan dagingnya selain tiga hal di atas juga mengandung protein, lemak, vitamin dan tentunya minyak kelapa. 
H.AVOKAD ( ALPUKAT ) Avokad kaya akan asam amino dan vitamin.
I.ALMOND Dapat menghaluskan kulit kasar karena banyak mengandung mineral, vitamin A dan B, dan asam oleat. 
J.TOMAT Mengandung protein, fosfor,besi, belerang, vitamin A, B1, dan C. 
K.ANGGUR Kaya akan trace mineral, kalsium, magnesiaum, potassum, vitamin B1, B2, b3, B5, B6, C dan senyawa-senyawa flavonoid. 
L.LEMON Mengandung vitamin A, C, B1, B2, dan B3. 
M.PISANG Mengandung serotinin, pektin, tanin, noradrenalin, 5 hidroksitritamin, dopamin dan berbagai vitamin, seperti vitamin A, B kompleks dan C. 
N.STRAWBERRY, buah berwarna merah ini banyak mengandung asam salisilat yang merupakan salah satu jenis asam beta-hidkroksi yang membantu mengencangkan kulit, silica serta vitamin B, C, E dan K dengan mengandung zat tersebut maka mampu menyehatkan dan meremajakan kulit hingga masker strobery sangat baik dikenal untuk hampir semua jenis kulit.
O.ANGGUR Sangat kaya akan trace mineral, kalsium, magnesium, potassium, vitamin B1, B2, B3, B5, B6, C dan senyawa-senyawa Flavonoid.
P.DAUN PAPAYA mengandung enzim papain. Alkaloid, psudokarpaina, glikosid, karposid dan saponin, sakarosa, dekctrosa serta levulosa. Sedang buahnya mengandung karotena, pectin, dgalaktosa dan I-arabinosa, papain, papaya, timin papain, dan fitokinase. Biji papaya mengandung glucoside, cacirin dan karpain, sementara getahnya mengandung papain, kemokapain, lisosim, lipase, glutamine, dan sklotransferase.
Q.TOMAT mengandung protein, fosfor, besi, belerang,vitamin A, B1, C. 
R.SIRIH Mengandung chavicol dan betlephenol.
S.JERUK NIPIS Mengandung unsur-unsur senyawa kimia antara lain limonene, linalin asetat, geranil asetat, fellandren, sitral dan asam sitrat.


Manajemen Pelatihan Pertanian

Oleh: Naroh
A.Pengertian Manajemen Pelatihan 
Secara alamiah orang akan berkembang bersama dengan dunia yang digelutinya, tetapi sering kali pertumbuhan perusahaan atau organisasi menuntut orang berkembang lebih cepat. Sinkronisasi pertumbuhan organisasi dengan perkembangan petugas tidak lain adalah pengisian kesenjangan pengetahuan, keterampilan dan sikap seseorang untuk memenuhi tuntutan jabatan tertentu. Jadi pelatihan adalah proses pengisian kesenjangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang dengan tuntutan pekerjaannya. Manajemen pelatihan adalah pengelolaan pelatihan yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasinya. 

B.Kegiatan-kegiatan Manajemen Pelatihan 
Kegiatan-kegiatan dalam manajemen pelatihan meliputi: menetapkan sasaran, perencanaan, pelaksanaan, pengecekan/pengawasan dan pengembangan diklat. Perencanaan adalah menentukan kebutuhan latihan berikut rekomendasinya. Menyusun pola dan program latihan sesuai rekomendasi berikut metode dan sarana latihan. Pelaksanaan adalah menyelenggarakan dan melaksanakan latihan. Pengecekan/pengawasan adalah menilai hasil-hasil dari pelaksanaan latihan yang telah dilakukan serta mengetahui apa-apa yang masih perlu disempurnakan. Penelitian dan pengembangan adalah meneliti dan mengembangkan cara-cara latihan sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengalaman agar tercapai produktivitas kerja. 

C.Tujuan, Fungsi, Komponen, dan Pendekatan Kurikulum 
Pada dasarnya kurikulum diklat sama dengan kurikulum pendidikan di sekolah, yaitu merupakan kumpulan pengalaman dan gagasan yang ditata dalam bentuk kegiatan sebagai proses pembelajaran sedemikian rupa, sehingga pengalaman dan gagasan itu terjalin, disajikan dengan menggunakan metode dan media yang disesuaikan dengan kebutuhan, dengan memperhatikan nilai-nilai yang ada. Diklat fungsional menekankan pada peningkatan penguasaan pengetahuan dan atau keterampilan sesuai dengan keahlian masing-masing. Tujuan kurikulum adalah apa yang harus dicapai, yang merupakan pedoman yang harus dikuasai, dan bagaimana cara melakukannya (menerapkannya). 

D.Macam-macam Manajemen Pelatihan 
Berbagai jenis diklat (Pendidikan dan latihan) diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pegawai/karyawan untuk penyesuaian tugas yang dipangkunya. Jenis-jenisnya antara lain: 
1.Pendidikan dan pelatihan prajabatan. 
2.Pendidikan dan pelatihan dalam jabatan: 
a)Pendidikan dan pelatihan struktural; 
b)Pendidikan dan pelatihan fungsional; 
c)Pendidikan dan pelatihan teknis. 
Pendidikan dan pelatihan dalam jabatan dibagi lagi dalam: 1) on the Job training (pelatihan dalam pekerjaan) dan 2) off the Job training (pelatihan diluar pekerjaan). Terdapat beberapa jenis pelatihan, yaitu: 
1.Kursus Tani: Membekali sasaran dengan pengalaman belajar yang dapat digunakan untuk memecahkan kekurangan, memenuhi kebutuhan yang sudah dirasakan, membekali pengalaman yang berguna bagi pemecahan kekurangan atau pemenuhan kebutuhan di masa mendatang yang mungkin belum dirasakan. 
2.Magang: merupakan bentuk pelatihan/proses belajar dari seorang atau beberapa orang yang dibimbing oleh orang yang lebih berpengalaman. Bagi petani, magang ke petani lain atau perusahaan agribisnis akan memberikan pengalaman baru yang sangat baik, yang dapat memotivasinya untuk berusahatani yang berorientasi agribisnis, lebih baik dan lebih meng-untungkan. 
3.Sekolah Lapangan: adalah sekolah yang berada di lapangan, mempunyai peserta dan pemandu lapangan, juga mempunyai kurikulum, tes/ujian dan sertifikat tanda lulus. Contoh sekolah lapangan adalah Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), dengan asas-asasnya: a) sawah sebagai sarana belajar utama, b) cara belajar lewat pengalaman, c) pengkajian agrosistem, d) metode serta bahan yang praktis dan tepat guna, e) kurikulum berdasarkan keterampilan yang dibutuhkan. 
4.P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya): adalah lembaga pendidikan di bidang pertanian dan pedesaan yang dimiliki dan dikelola langsung oleh petani-nelayan baik secara perorangan maupun berkelompok, dan bukan merupakan instansi pemerintah dengan asas demokrasi, swadaya, pengembangan usaha, dan keterpaduan. 

E.Merumuskan Tujuan Manajemen Pelatihan 
Tujuan belajar dalam suatu latihan merupakan tujuan latihan dalam bentuk kemampuan peserta pada akhir latihan. Dalam proses belajar-mengajar, latihan belajar disebut Tujuan Instruksional Khusus (TIK). TIK yang disusun secara baik akan dapat memberikan manfaat yaitu: 
1.Memberikan arah latihan yang jelas, sehingga memudahkan menentukan cara untuk mencapainya. 
2.Memungkinkan para pelatih saling membantu secara aktif dan memungkinkan peserta menyiapkan diri lebih baik serta turut bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan.
3.Memungkinkan komunikasi yang lebih lancar dan lebih efisien antara pelatih, peserta latihan, dan panitia. 
4.Dapat menghindari pelayanan atau materi latihan yang tumpang tindih. 
5.Dapat memungkinkan peserta latihan belajar lebih efisien, karena mereka dapat mengkonsentrasikan diri pada tujuan yang pasti dan dapat menghemat waktu dengan tidak perlu lagi melakukan yang sudah dikuasainya. 
6.Mendudukkan pelatih dalam pelaksanaannya yang tepat sebagai pendidik dan pembina, Ia buka hanya sekedar penerus informasi, melainkan pembimbing dan pemberi fasilitas belajar. 
TIK suatu latihan hendaknya mengacu kepada kemampuan peserta pada akhir latihan, mudah diamati dan terukur. Perumusan TIK harus jelas, menggunakan kata kerja yang sifatnya operasional dengan melibatkan paling tidak 3 (tiga) komponen, yaitu penilaian yang dikehendaki (P, K, dan S), materi yang dibahas dan kondisi. Selain itu TIK harus menempatkan peserta latihan sebagai pokok kalimat. 

F.Langkah-langkah Penyelenggaraan Manajemen Pelatihan 
Langkah awal yaitu persiapan latihan yang mencakup baik dibidang surat menyurat, kepesertaan, jadwal, pembiayaan, dan sebagainya (persiapan administratif). Selain itu yang penting juga adalah persiapan edukatif (proses pelatihan) yang mencakup hal-hal seperti pelatih, jadwal kuliah & praktek dan acara pembukaan, penutupan, penugasan, evaluasi, dan sebagainya. Pelaksanaan latihan dimulai dengan perubahan dimana panitia/petugas perlu mempersiapkan acara yang perlu disusun, fasilitas pertemuan dan undangan. Sesudah acara pembukaan dapat dilanjutkan dengan acara seperti penjelasan tentang proses pelatihan, hal dan tanggung jawab/kewajiban peserta dan tes awal (pretest). Pelaksanaan latihan mengacu kepada kurikulum dan silabi, proses pembelajaran yang spesifik pola pelatihan serta jam kuliah & praktek yang direncanakan. Kekurangan yang muncul selama proses pelatihan perlu diidentifikasi dan segera dicari solusi pemecahannya baik menyangkut kepesertaan, jadwal latihan, fasilitas, dan sebagainya. Sebelum dilakukan acara penutupan, pelatih perlu diakhiri dengan evaluasi akhir (post test) untuk mengukur keberhasilan pelatihan. Surat Tanda Tamat Pelatihan perlu diserahkan pada acara penutupan tersebut. 

G.Kekurangan dan Masalah Dalam Manajemen Pelatihan Serta Alternatif Pemecahannya.
Dalam suatu pelatihan dapat dijumpai masalah-masalah yang berkaitan dengan teknis penyelenggaraan latihan, masalah ekonomi yang berkaitan dengan aspek finansial (pembiayaan) pelatihan dan masalah sosial yakni yang berkaitan dengan hubungan sosial pelaku latihan maupun dengan lingkungan masyarakat sekitar. Boleh jadi dalam suatu pelatihan dapat muncul masalah teknis, ekonomi, sosial atau gabungan ketiga unsur tersebut. Masalah-masalah tersebut dapat muncul pada saat menjelang latihan (pralatihan), pada saat latihan maupun sesudah latihan (pascalatihan). 
1.Masalah pralatihan, ditemukan pada saat pemaparan, dapat mencakup jumlah dan keaktifan peserta. Jumlah peserta dapat terlalu banyak atau sedikit. Ketersediaan pelatih yang kurang memenuhi syarat serta masalah jumlah pelatih, dapat juga menjadi masalah dalam pelatihan. 
2.Masalah yang muncul selama proses pelatihan, terutama proses pembelajaran perlu diidentifikasi dan dicari secara cepat agar tidak berakibat terhadap efektivitas latihan. Masalah dalam pelaksanaan latihan terutama jika masa pelatihan cukup lama (1-6 bulan) atau lebih, maka semangat mengikuti latihan akan menurun. Untuk itu semua komponen pelatihan dapat melakukan berbagai variasi pelayanan baik dalam acara pelatihan, materi pelatihan maupun pelayanan proses belajar-mengajar, penjadwalan, acara hiburan, dsb. 
3.Sesudah latihan, perlu ada tindak lanjut. Masalah yang ditemukan sesudah latihan (pascalatihan) umumnya peserta tidak secara cepat memantau dan mau membantu secara kontinu alumni pelatihan dalam meneruskan materi pelatihan kepada rekan-rekan lainnya. 

H.Kelebihan Dalam Manajemen Pelatihan
Kelebihan dalam pelatihan dilihat dengan cara belajar lewat pengalaman atau dikenal juga dengan Siklus Belajar lewat Pengalaman (ELC = Experienced Learning Cycle) banyak diterapkan dalam pelatihan, karena dipandang cocok untuk kondisi kemampuan orang dewasa yang mengalami penurunan. Cara belajar ini dimulai dengan peserta melakukan sesuatu untuk memperoleh pengalaman, mendiskusikan/menulis pengalaman, menggali & mengembangkan prinsip serta melaksanakan & menerapkan prinsip dan kembali ke tahap memperoleh pengalaman kembali.

I.Evaluasi Manajemen Pelatihan
Untuk mengukur efektivitas dan efisiensi suatu pelatihan dapat dilaksanakan evaluasi baik menyangkut proses maupun keberhasilan pelatihan. Keberhasilan suatu pelatihan diukur dengan melihat sampai seberapa jauh tujuan yang dirumuskan sebelumnya dapat terwujud pada diri peserta. Evaluasi ini pada dasarnya mengukur efektivitas suatu latihan. Sedangkan evaluasi terhadap proses pelatihan menyangkut proses pelatihan, penyelenggaraan pelatihan, administrasi dan sebagainya. Proses-proses ini pada dasarnya lebih banyak berkaitan dengan efisiensi suatu pelatihan. Proses evaluasi pada dasarnya mencakup tahapan-tahapan seperti membuat daftar tujuan latihan, membuat daftar isu perencanaan yang kritis, mereview tentang informasi yang tersedia, mengembangkan evaluasi tujuan, memilih pengukuran, instrumen dan standar dan merancang studi. Namun secara garis besar evaluasi mencakup 3 (tiga) tahap yaitu melakukan pengumpulan data, menggunakan kriteria tertentu dan membuat kesimpulan atau keputusan. Jenis evaluasi yang digunakan untuk menilai suatu pelatihan pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) model yaitu evaluasi sepintas lalu dan evaluasi yang sifatnya ilmiah (penelitian ilmiah). Namun secara luas jenis evaluasi tersebut mencakup (1) evaluasi sepintas lalu; (2) evaluasi diri sendiri; (3) evaluasi dengan daftar isian; (4) evaluasi dengan survai kegiatan; dan (5) penelitian ilmiah. Semakin ke kanan evaluasi dipandang semakin objektif dan sebaliknya. 
Dalam pelatihan cara evaluasi yang banyak dilakukan adalah dengan tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-test). Dengan bentuk dan format soal yang sama, proses evaluasi dilaksanakan sesudah pembukaan latihan dan sebelum penutupan latihan. Namun cara lain dapat saja digunakan, disesuaikan dengan pelatihan yang dilaksanakan.

J.Pemberdayaan SDM Menuju Masyarakat Madani
Ada beberapa alasan penting untuk memberdayakan masyarakat antara lain penduduk yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, sebagian besar penduduk masih berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar, partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang masih rendah, kurang informasi, kondisi masyarakat yang bervariatif dan lembaga masyarakat yang ada belum berfungsi memberdayakan secara tepat. Agar masyarakat dapat lebih berdaya, yakni yang mandiri serta mampu mengambil keputusan mandiri secara tepat, perlu ada usaha-usaha dari pihak-pihak terkait agar tujuan peningkatan sumberdaya masyarakat dapat terwujud. Apalagi dengan program otonomi daerah yang memberi peluang besar bagi aparat untuk mengerahkan sumberdaya yang tersedia. Dengan demikian maka perluh diadakannya pelatihan-pelatihan agar dapat memberikan motivasi kepada masyarakat terutama kepada masyarakat pertanian. 

PUSTAKA
Copyright © 2007 PUSLATA UNIVERSITAS TERBUKA. All rights reserved   
Jl. Cabe Raya, Pondok Cabe 15418 Tangerang, BANTEN – INDONESIA
http:/pustaka.ut.ac.id/


Manajemen Pelatihan

Filosofi Pelatihan. 
Oleh: Naroh

Pada hakekatnya setiap individu maupun kelompok selalu dituntut untuk
belajar dan meningkatkan kemampuannya agar dapat mempertahankan 
hidupnya, karena dengan belajar akan menghasilkan perubahan, yaitu 
didapatnya kemampuan yang baru yang berlaku untuk waktu yang relatif 
lama. Salah satu peningkatan kemampuan ataupun proses belajar antara 
lain melalui kegiatan pelatihan. 
2. Pengertian Pelatihan 
- Menurut Inpres Nomor 15 tahun 1974 tentang Pelaksanaan Keppres 
Nomor 34 tahun 1972: Pelatihan adalah bagian dari pendidikan yang 
menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan 
ketrampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang 
relatif singkat dan metodenya mengutamakan praktek daripada teori”. 
- Berdasarkan Kep. Menkes RI Nomor 725 / Menkes / SK / V / 2003: 
Pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan 
kinerja, profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier 
tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya 

Page 5
5
- Menurut H. John Bernadin dan Joyce E.A. Russel, Mc. Grill Hills, 
(1993:297): Pelatihan merupakan beberapa usaha untuk memperbaiki 
performance pegawai di tempat kerjanya atau yang berhubungan 
dengan hal tersebut. Agar efektif pelatihan harus melibatkan 
pengalaman belajar, merupakan rencana organisasi dan dibentuk 
untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan. Jadi pelatihan harus 
dirancang untuk memenuhi tujuan organisasi yang dihubungkan 
dengan tujuan pegawai”. 
- Menurut Bambang Wahyudi, (1994 : 125) : Pendidikan atau belajar 
merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen, sebagai 
hasil dari pengalaman dan pelatihan yang dilakukannya”. Pemahaman 
tentang teori belajar akan sangat berguna dalam menjamin 
keberhasilan suatu program pelatihan. 
Manajemen Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) 
Setiap kegiatan dibidang pendidikan dan pelatihan pada dasarnya 
adalah usaha-usaha 
untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan 
ketrampilan, agar menghasilkan kinerja yang berhasilguna dan 
berdayaguna. Kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) 
dilaksanakan sebagai upaya untuk menanggulangi kesenjangan dalam 
pelaksanaan tugas/pekerjaan yang disebabkan karena kekurang mampuan 
manusiawi (humanistic skill), kurangnya kemampuan teknis (technical skill),
atau kurangnya kemampuan manajerial (managerial skill). 
Pendidikan dan pelatihan merupakan suatu proses yang berlangsung 
seumur hidup, sepanjang kegiatan manusia, yang dilakukan secara sadar. 
Proses pendidikan sebagai proses pembelajaran tidak berhenti atau selesai 
setelah tamat sekolah atau pendidikan formal. Setiap yang kita lakukan 
mengandung unsur belajar. Apa yang kita pikirkan dan lakukan dimasa lalu,
apa yang kita pikirkan dan lakukan pada saat ini dan apa yang kita pikirkan 
dan rencanakan untuk masa mendatang, semuanya menunjukkan proses
belajar. Selama ini kita tidak melihat atau menganggap hal itu sebagai suatu 
”pengalaman belajar” atau suatu ”situasi belajar” karena pemahaman kita 
tentang belajar atau proses diklat telah dibatasi dengan pandangan sempit, 
yaitu indentik dengan sekolah atau pelatihan didalam kelas (in the class
room training). 
Pandangan yang benar tentang proses belajar, serta pergeseran 
paradigma diklat, harus menjiwai pengelolaan diklat atau manajemen diklat. 
Dalam pelaksanaannya, sejak awal program diklat harus sudah dirancang 
untuk pemenuhan kebutuhan learner. Hal ini sejalan juga dengan prinsip 
mutu, yaitu orientasi pada pemenuhan kebutuhan pelanggan. 

Page 8
8
B. Pelatihan sebagai suatu proses yang integral. 
Pada dasarnya pelatihan sebagai suatu proses yang integral adalah 
penerapan dari suatu manajemen pelatihan secara utuh dan konprehensif.
Suatu program pelatihan dikatakan bermutu, apabila pada akhir pelatihan 
para mantan peserta latih dapat membawa dampak positif atau mempunyai
nilai tambah bagi organisasi, program dan individu. Selanjutnya untuk dapat
merancang program pelatihan seperti terrsebut diatas diperlukan langkah 
langkah sebagai penjabaran dari manajemen pelatihan/diklat yang 
merupakan kegiatan dari kelima proses manajemen pelatihan atau lebih 
dikenal dengan lima bakso, yang dilakukan secara sistematis, terencana 
dan terarah. Langkah langkah tersebut digambarkan dalam siklus berikut 
ini. 
Langkah 1 : Mengkaji Kebutuhan Pelatihan (Training Need
Assesment / TNA) 
Merupakan langkah awal dari suatu perencanaan pelatihan. Pada 
prinsipnya, proses pengkajian kebutuhan pelatihan adalah melakukan 
pengkajian tentang ada tidaknya kesenjangan dalam penampilan kerja, 
Pengkajian
Kebutuhan
Pelatihan 
Evaluasi 
Program 
Pelatihan 
Perumusan 
Tujuan 
Pelatihan 
Merancang
Program 
Pelatihan 
Pelaksanaan 
Program 
Pelatihan 

Page 9
9
yaitu kesenjangan antara apa yang seharusnya dilakukan merupakan 
ketentuan penampilan kerja (standar), sedangkan apa yang sebenarnya 
dilakukan merupakan tingkat penampilan kerja yang dicapai atau yang 
dimiliki. Perbedaan inilah yang disebut sebagai kesenjangan (gap). 
Namun tidak selalu setiap ada kesenjangan antara standar dan 
penampilan kerja harus diatasi dengan pelatihan. Hal ini sangat
tergantung dari penyebab kesenjangan tersebut. 
Oleh karena itu dalam melakukan TNA, langkah kegiatannya dimulai 
dengan melakukan Analisis Organisasi atau Institusi, yaitu : 
1) Mengindentifikasi masalah organisasi. 
2) Merumuskan masalah 
3) Menentukan penyebab timbulnya masalah, ada 2 (dua) faktor utama : 
a) Penyebab yang diakibatkan oleh faktor kemampuan petugas, dari 
segi pengetahuan, ketrampilan dan atau sikap. Faktor inilah yang 
dapat diintervensi dengan pelatihan, dan menjadi kebutuhan 
pelatihan. 
b) Penyebab yang diakibatkan oleh faktor lain seperti lingkungan,
iklim kerja, sarana, fasilitas dan sebagainya. Faktor penyebab ini 
tidak dapat diintervensi dengan pelatihan, tapi harus menggunakan 
metode pemecahan masalah yang lebih lanjut 
Dengan melakukan TNA sebagai langkah awal dalam manajemen diklat 
secara benar, berarti diklat yang berorientasi pada kebutuhan 
learner/pembelajaran sudah dimulai. 
Langkah 2 : Merumuskan Tujuan Pelatihan (Training Objective) 
Pada langkah kedua ini, diawali dengan merumuskan secara tepat dan 
benar kesenjangan atau gap kinerja yang terjadi, agar menjadi jelas pula 
kemampuan apa yang masih harus ditingkatkan. Dengan demikian, tujuan 
pelatihan yang ingin dicapai akan dapat dirumuskan secara jelas, terukur 
dan dapat dicapai. 

Page 10
10
Tujuan pelatihan dirumuskan dalam bentuk kompetensi yang harus 
dimiliki oleh peserta latih setelah selesai mengikuti program diklat. 
Biasanya dirumuskan dalam Tujuan Umum dan Tujuan Khusus. 
Tujuan Umum : Menggambarkan tentang tujuan yang ingin dicapai pada 
akhir pelatihan. 
Tujuan Khusus : Menguraikan secara lebih spesifik, tujuan yang ingin 
dicapai untuk tercapainya tujuan umum pelatihan. 
Langkah 3 : Proses Merancang Program pelatihan (Training Design) 
Pada langkah ketiga ini, kompetensi yang ingin dicapai sebagaimana 
dirumuskan pada langkah kedua, dijabarkan dalam kegiatan operasional 
yang dapat diukur. Proses pada langkah ketiga ini harus menghasilkan : 
- Kurikulum, yang dirancang atas dasar kompetensi yang harus dicapai 
(Competensy Based) diuraikan dalam : 
o Materi pelatihan 
o Metode Peyampaian dan alat bantu yang diperlukan 
o Proses belajar setiap materi 
o Proporsi waktu. 
- Metode penyelenggaraan pelatihan 
- Rancangan alur proses pelatihan.
Langkah
4 : Melaksanakan Program Pelatihan (Training
Implementation) 
Pada langkah keempat ini, merupakan rangkaian kegiatan pelaksanaan 
program pelatihan, pedoman pada kurikulum, metode penyelenggaraan 
dan rancangan alur proses pelatihan. Apabila pelaksanaan langkah
keempat ini tidak sesuai dengan hasil pada langkah ketiga tersebut, maka 
tujuan pelatihan dalam hal ini kompetensi yang diharapkan, tidak akan 
tercapai. 

Page 11
11
Proses melaksanakan program pelatihan, harus didahului dengan proses
persiapan, sehingga menghasilkan antara lain: 
- Kerangka Acuan 
- Jadwal pelatihan 
- Pelatih yang sesuai dengan kriteria 
- Kelengkapan sarana dan fasilitas diklat maupun penunjangnya 
- Master Training 
- Format format yang dibutuhkan.
Proses pelaksanaan pelatihan, pada prinsipnya adalah, implementasi 
proses pembelajaran, untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang pada 
akhirnya untuk mencapai tujuan pelatihan.
Selama proses ini dapat dilakukan kegiatan pemantauan dan 
pengendalian, agar tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai serta 
langkah langkah sebelumnya. 
Langkah 5: Melakukan Evaluasi Program Pelatihan (Training 
Evalution) 
Pada langkah kelima ini, merupakan kegiatan penilaian terhadap 
pelaksanaan program pelatihan, meliputi penilaian peserta, pelatih 
penyelenggara, serta pencapaian tujuan pelatihan. 
Sebenarnya evaluasi harus dilakukan pada setiap langkah dari siklus
pelatihan, tidak hanya pada akhir pelatihan. 
Berdasarkan tingkatannya, evaluasi pelatihan dibagi dalam 4 (empat) 
tahap (Kirk Patrick), yaitu : 
- Evaluasi pada tingkat reaksi. 
Pada tingkat ini, yang dinilai/diukur adalah tingkat kepuasan peserta 
terhadap proses dan hasil pelatihan yang diperolehnya. 
- Evaluasi pada tingkat belajar 

Page 12
12
Pada tingkat ini, diukur/dinilai perubahan pengetahuan, ketrampilan 
dan sikap peserta latih sesuai dengan kompetensi yang telah 
ditetapkan. 
- Evaluasi pada tingkat Tingkah Laku dalam pekerjaan (pasca pelatihan) 
Pada tingkat ini, dinilai/diukur seberapa besar pengaruh pelatihan 
terhadap pekerjaan atau penerapan di tempat kerja. 
- Evaluasi pada Tingkat Hasil 
Pada tingkat ini, dapat dinilai pengaruh penerapan hasil pelatihan di 
tempat kerja terhadap efektif organisasi. 
Berdasarkan tahapannya, evaluasi pelatihan dibagi dalam tiga tahap,
yaitu 
- Tahap Pra Pelatihan 
Pada tahap ini penilaian dilakukan terhadap persiapan atau 
perencanaan pelatihan, yang saat ini dikenal sebagai Akreditasi 
Pelatihan. 
Pelatihan meliputi empat komponen, yaitu : 
o Peserta 
o Kurikulum 
o Pelatih 
o Institusi Penyelenggara. 
- Tahap Selama Pelatihan 
Pada tahap ini dilakukan penilaian terhadap input, proses dan output 
selama proses pelatihan sampai akhir pelatihan. 
- Tahap Pasca Pelatihan Pada tahap ini, dilakukan penilaian terhadap 
hasil dan dampak pelatihan.