Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Januari 2009

Penanganan Hasil

PENANGANAN HASIL TANAMAN SEDAP MALAM

Oleh : Naroh

Tanaman sedap malam merupakan salah satu jenis tanaman hias yang sudah lama dikenal dan telah banyak dibudidayakan di Indonesia, baik dalam skala kecil maupun skala yang lebih besar. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomis yang cukup baik, karena mempunyai beberapa keguanaan diantaranya sebagai tanaman hias dalam bentuk bunga potong, untuk bahan kosmetik dan lain sebagainya.

Sebagaiamana pada umumnya tanaman yang dimanfaatkan bunganya, maka perlu suatu upaya penanganan khusus yang dapat menjaga kualitas dari bunga yang dihasilkan. Untuk tanaman sedap malam usaha penanganan yang biasa dilakukan dimulai dari penentuan waktu panen, cara panen, dan penanganan hasil panen.

1.Penentuan Waktu Panen
Penentuan waktu panen ini sangat perlu dilakukan untuk menjaga kualitas bunga yang dihasilkan, karena dengan penentuan waktu panen yang salah dapat menyebabkan turunnya kualitas dari bunga tersebut. Tanaman sedap malam pada umumnya dipanen setelah berumur 9 bulan, atau setelah tumbuh bunga dan bunga tersebut sudah mekar 3 – 5 buah. Tanaman dipanen pada waktu pagi hari atau sore hari, dengan tujuan untuk mengurangi terjadinya penguapan, sehingga bunga yang dihasilkan tidak layu dan tetap segar.
2.Cara Panen
Untuk menjaga keutuhan dan kesegaran bunga yang dihasilkan , maka perlu diperhatikan cara panen yang baik, yaitu dengan menggunakan pisau atau gunting setek yang tajam, tangkai bunga dipotong dengan posisi miring. Tujuan dari pemotongan secara miring adalah selain untuk estetika juga untuk memperluas permukaan bawah batang sehingga apabila bunga tersebut ditaruh diember yang berisi air, penyerapan terhadap air dapat berjalan optimal sehingga bunga menjadi tetap segar.

3.Penanganan hasil panen
Setelah tanaman sedap malam dipanen, maka perlu dilakukan upaya penanganan sebelum bunga tersebut dipasarkan. Berikut akan diuraikan cara-cara penanganan hasil tanaman sedap malam yang biasa dilakukan oleh petani.
a.Apabila tanaman dipanen pada sore hari dan akan dipasarkan pada pagi harinya, untuk menjaga kesegaran bunga biasanya bunga potong sedap malam ditaruh secara tegak didalam ember yang berisi air dan sudah dicampur dengan larutan gula.
b.Apabila hasil panen akan dipasarkan upaya yang dilakukan biasanya bunga potong diikat menjadi beberapa ikatan, kemudian bagian bunganya dibungkus dengan menggunakan daun pisang yang masih segar. Selain dengan menggunakan daun pisang biasanya petani menggunakan juga kapas yang sudah dibasahi untuk membungkus bunga tersebut.  

Dengan penanganan hasil sebagaimana tersebut diatas diharapkan dapat menjaga kualitas dari tanaman sedap malam yang dihasilkan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup petani dan keluarganya.













PENANGANAN HASIL TANAMAN DURIAN
DI TINGKAT PEDAGANG KAKI LIMA (PKL)
Oleh : Ervan Elfian, Farid Nursoba, Heriyanto

Tanaman durian merupakan salah satu komoditi unggulan buah-buahan di Indonesia, tanaman ini mempunyai ciri yang khas yaitu aroma yang harum dan rasa yang sangat manis, sehingga tanaman ini mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Di pasaran perdagangan buah durian terdapat dari mulai pedagang eceran, pedagang kaki lima sampai swalayan. Untuk pedagang eceran atau pedagang kaki lima biasanya durian yang dijual adalah varietas lokal, sedangkan di Supermarket/swalayan biasanya durian impor.
Buah durian yang dijual pedagang kaki lima biasanya berasal dari petani yang menanam atau membudidayakan durian baik dibeli langsung maupun melalui pedagang perantara yang dalam hal ini biasanya tengkulak.
  Penanganan hasil buah durian yang dilakukan pedagang kaki lima khususnya yang membeli langsung dari petani ataupun memetik dari kebunnya sendriri biasanya hampir sama, yaitu terdiri dari beberapa tahapan :
1.Penanganan hasil selepas panen 
Untuk memperoleh kualitas buah yang baik penentuan saat panen merupakan salah satu kunci yang harus diperhatikan, biasanya kalau buah terlalu muda akan menyebabkan kualitas buah menurun. Penentuan waktu panen dan cara pemanenan yang umumnya sering dilakukan oleh pedagang kaki lima dan petani adalah :
a.Membiarkan durian sampai benar-benar matang di pohon, karena durian yang matang di pohon akan mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Untuk menghindari agar durian saat matang tidak jatuh/gugur ke tanah, biasanya petani mengikat batang buah dengan menggunakan tali dalam keadaan tetap tergantung, sehingga begitu buah matang tidak akan jatuh tetapi akan tetap tergantung dengan bantuan tali.
b.Memetik durian pada saat buah sudah tua, kemudian buah dimasukkan kedalam gudang dan kemdian dilakukan pemeraman, biasanya dengan menggunakan karbit, dan lain-lain.
2.Penanganan hasil pada saat pengangkutan
Setelah buah selesai dipetik ataupun diperam, buah biasanya langsung diangkut untuk dijual/dijajakn di pinggir jalan. Penanganan yang dilakukan pada saat pengangkutan adalah buah dimasukkan kedalam keranjang-keranjang besar secara disusun ataupun ditumpuk, kemudian diangkut dengan menggunakan mobil bak terbuka. Selain itu apabila buah yang akan dijual sangat banyak, biasanya buah tidak dimasukkan ke keranjang, melainkan langsung ditaruh di bak mobil secara ditumpuk.
3.Penanganan hasil pada saat penjualan
Sebagaimana diketahui bahwa yang disebut dengan pedagang kaki lima adalah pedagang yang biasa menjajakan barang dagangannya di pinggir jalan. Untuk pedagang kaki lima buah durian, penanganan yang dilakukan pada saat penjualan adalah dengan membuat saung-saung, kemudian untuk menarik minat pembeli biasanya ada durian yang digantungkan. Selain itu ada juga yang membuat rak-rak dari kayu kemudian buah durian ditata, dan biasanya tiap tahapan rak menjadi pembeda dari harga durian yang dijual. Khsusn yauntuk wilayah DIY yang sering kita lihat, biasanya durian dijual pada malam hari dengan cara buah dihamparkan pada terpal sehingga pembeli dapat leuasa memilih buah durian sesuai dengan yang diinginkan.









Klasifikasi MUTU BUAH
Oleh : Ervan Elfian, Farid Nursoba, Heriyanto

klasifikasi mutu pada buah-buahan sebenarnya dilakukan untuk memproleh nilai tambah karena buah-buahan dapat dijual dengan harga yang yang sama tergantung pada kelasnya masing-masing.
Klasifikasi mutu buah sangat diperlukan untuk menggolongkan buah sesuai dengan ukuran dan ada tidaknya cacat. Klasifikasi mutu atau grading adalah klasifikasi komoditi kedalam kelompok menurut standar yang secara komersial dapat diterima.
Tujuan dari dilakukannya klasifikasi buah adalah sebagai berikut :
1.Mendapatkan buah yang mempunyai keseragaman baik dalam ukuran maupun kualitas.
2.Mempermudah penyusunan didalam kemasan.
3.Mendapatkan harga yang tinggi di pasaran.
4.Mempermudah penghitungan.
5.Mempermudah pembeli untuk mendapatkan buah seperti yang diinginkan dan juga merupakan upaya perlindungan konsumen.
mutu buah untuk pasar lokal, pasar swalayan dan untuk pasar ekspor tidak sama. Mutu buah ekspor harus baik dan standar yang diinginkan umumnya telah ditentukan oleh negara tujuan. Standar ini bisa berlainan untuk setiap negara.
Berikut akan disajikan tabel standar mutu buah yang dikeluarkan oleh Depertemen Perdagangan :

Jenis Buah
No. Standar
Kelas
Berat (g/buah)
Alpukat
SP 143-1981
Besar
Sedang
Kecil
451 – 550
351 – 450
230 – 350

Jeruk Keprok
SP 140 – 1981
Kelas A
Kelas B
Kelas C
Kelas D
>7,1 atau > 151
6,10 atau 101 – 150
5,1 atau 51 – 100
4 – 5 atau < 50

Mangga Arumanis
SP 139 – 1981
Besar
Sedang
Kecil
Sangat Kecil
>400
300 – 400
300 – 449
250 – 399

Mangga Golek

Besar
Sedang
Kecil
Sangat Kecil
>500
450 – 500
400 – 449
350 – 399

Mangga Gedong

Besar
Sedang
Kecil
Sangat Kecil
>250
200 – 250
150 – 199
100 – 149

Mangga Manalagi

Besar
Sedang
Kecil
Sangat Kecil
>400
350 – 400
300 – 349
250 – 299

Salak

Besar
Sedang
Kecil
>61
33 – 60
< 32


Standar mutu buah lokal yang ditetapkan berdasarkan daerah asal oleh para pedagang dapat dilihat pada tabel berikut, sebagai contoh diambil standar mutu pada buah jeruk.

Daerah Asal
Grade
Jumlah Buah/Kg
Bali
AA
AB
C
7 – 8
9 – 10
12 – 15

Madura dan Malang
A
AB
C
6 – 7
8 – 10
12 – 15

Tawangmangu
Ponorogo
Kedu
Bom
Besar
Atom
Spesial 
5 – 6
8 -9
10 – 12
15
Pekalongan
Sukoharjo
A
B
Atom
Spesial
5 – 7
8 – 9
10 -12
15

Palembang
Tanjang Karang
Asli
O
Polos
6 – 7
9 – 10
12 – 15 

Pontianak
A
AB
C1 dan C2
6 – 7
7 – 8
12 – 16 

Selain berdasarkan hal tersebut diatas (bobot buah) klasifikai mutu buah biasanya juga dibedakan berdasarkan ukuran, kemulusan dan tingkat kematangan.

Peran Kelompok Pemuda Tani

PERANAN KELOMPOK PEMUDA TANI (TARUNA TANI) TERHADAP PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK
DI DESA SUKARATU KABUPATEN TASIKMALAYA JAWA BARAT

Oleh : Naroh


BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Desa Sukaratu merupakan salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Tasikmalaya yang terletak di kaki Gunung Galunggung, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, khususnya petani padi dan ikan. Karena berada di daerah vulkanik Gunung Galunggung, maka daerah ini terkenal akan kesuburan tanahnya, hal ini dibuktikan dengan tingginya produksi yang dihasilkan dari usaha budidaya tanaman padi.
Akan tetapi kesuburan tanah tersebut sekarang sudah mulai berkurang, hal ini disebabkan oleh tingginya kadar penggunaan dari pupuk kimia (anorganik) dan pestisida sehingga perlu adanya suatu upaya untuk menanggulangi hal tersebut, salah satunya dengan penggunaan pupuk organik.
Berdasarkan data yang diperoleh penulis menunjukkan bahwa walaupun Desa Sukaratu merupakan areal pertanian, akan tetapi hal tersebut tidak diikuti oleh regenarasi di bidang pertanian. Hal ini didukung oleh data yang menunjukkan bahwa hampir 90 % petani di desa tersebut rata-rata berusia 40 – 50 tahun keatas. Para pemuda merasa enggan dan gengsi untuk terjun di bidang pertanian, mereka lebih memilih untuk berusaha di kota misalnya Jakarta dan Bandung walaupun hanya sebagai kuli bangunan atau tukang kredit.
Akan tetapi di desa tersebut masih ada sekelompok pemuda yang masih peduli dan sudi untuk berusaha dibidang pertanian dan mereka bersatu dalam satu Kelompok Pemuda Tani atau biasa disebut dengan “Kelompok Taruna Tani”. Dalam keberadaannya Kelompok Taruna Tani ini mempunyai peranan yang cukup besar dalam menggalakan penggunaan kembali pupuk organik dalam berusahatani. Kelompok ini secara aktif bekerjasama dengan para Penyuluh memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada petani tentang pentingnya penggunaan pupuk organik dan bagaimana cara pembuatannya.
Dengan adanya kondisi sebagaimana tersebut diatas maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian di desa tersebut khusunya tentang sejauh mana peran dari Kelompok Taruna Tani terhadap penerapan inovasi khususnya penggunaan pupuk organik.

B.Perumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
Untuk mempermudah penulis melakukan penelitian dan hasilnya lebih terarah, maka penulis merasa perlu untuk merumuskan masalah yang akan diteliti, sehingga nantinya akan diperoleh tujuan penelitian yang jelas.
Perumusan masalah ialah usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicarikan jalan pemecahannya
Secara garis besarnya penulis membagi perumusan masalah menjadi tiga bagian dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendukungnya sebagai berikut :
1.Deskriftif
a.Berapa persen tingkat kerusakan tanah yang terjadi ?
b.Seberapa besar tingkat penggunaan pupuk anorganik dan pestisida oleh petani ?
c.Sejauh mana para petani telah melakukan antisipasi terhadap tingkat kesuburan tanahnya ?
d.Sejauh mana peran Kelompok Taruna Tani terhadap usaha mengembalikan kembali kesuburan tanah ?
e.Sejauh mana peran Kelompok Taruna Tani terhadap sosialisasi penggunaan pupuk organik ?
2.Komparatif
a.Bagaimana perbedaan tingkat kesuburan tanah di Desa Sukaratu dengan desa lain disekitarnya ?
b.Adakah perbedaan pola penggunaan pupuk anorganik dan pestisida di Desa Sukaratu dengan desa lain disekitarnya ?
c.Adakah perbedaan antara para petani pada umumnya dengan Kelompok Taruna Tani dalam penggunaan pupuk anorganik dan pestisida serta dalam penggunaan pupuk organik ?
3.Asosiatif
a.Apakah terdapat hubungan antara penggunaan pupuk anorganik dan pestisida yang berlebihan terhadap tingkat kesuburan tanah ?
b.Adakah hubungannya antara penggunaan pupuk organik dengan tingkat kesuburan tanah ?
Adapun tujuan dilaksanakannya penelitiannya ini adalah sebagai berikut :
1.Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kerusakan tanah yang terjadi di Desa Sukaratu.
2.Untuk mengetahui sejauhmana peran petani dalam terjadinya penurunan tingkat kesuburan tanah di Desa Sukaratu
3.Untuk mengetahui sejauhmana peran dari Kelompok Taruna Tani terhadap penggunaan pupuk organik di Desa Sukaratu.
4.Untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang pengaruh penggunaan pupuk anorganik dan pestisida terhadap kesuburan tanah.
5.Untuk mendapatkan gambaran tentang pengaruh penggunaan pupuk organik terhadap tingkat kesuburan tanah.

C.Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini penulis batasi hanya di Desa Sukaratu dengan batasan penelitian hanya pada peranan Kelompok Taruna Tani terhadap penggunaan pupuk organik di Desa Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.

Kemasan

Pengertian dasar kemasan
Kegunaan utama kemasan :
1. Sebagai wadah
2. Untuk kemudahan-kemudahan
3. Sebagai pelindung
4. Sebagai sarana informasi dan promosi

Difinisi kemasan
Kemasan ialah bahan kemasan yang dirancang khusus sebagai sarana untuk penyampaian sesuatu produk sejak produk tersebut selesai dipersiapkan sampai tiba ketangan konsumen masih dalam kedaan baik

Sifat produk hortikultura
1.Letak nilai tinggi produk hortikultura produk hortikultura mudah rusak, dan nilai/harga tinggi tercapai bila masih dalamkeadaan segar/keinginan konsumen.
2.Masih dalam kondisi bernafas : perlu o2, mengeluarkan air, panas dan co2.
3.Kehilangan air . Menjadi layu
4.Mengeluarkan gas etilen
5.Mudah mengalami kerusakan mekanis

Unsur perusak produk hortikultura
Gaya mekanis
Penerusan proses penuaan :
1.Pengeluaran panas
2.Kehilangan air
3.Penyerapan o2
4.Pengeluaran gas co2
5.Pengeluaran gas etilen

Pengemasan produk hortikultura
Pengemasan jarak pendek lebih memperhatikan faktor perusak gaya mekanis
Gaya mekanis : 
1.Gaya mekanis statis 
Gaya mekanis statis : penumpukan , memar, pecah, penyok dll.
Pencegahan , membuat wadah pengemas yang kuat

2.Gaya mekanis dinamis
Gaya mekanis dinamis : gaya bantingan, benturan, pukulan, getaran, geseran dan ayunan, seperti halnya pada kerusakan gaya statis
Pencegahan bahan peredam gaya mekanis dinamis seperti karet busa, busa plastik, potongan kertas dll.




Pengemasan jarak pendek adalah membiarkan produk hidup dan bernafas secara wajar sehingga kemasan harus terbuka supaya cukup ventilasi.
Bahan kemasan meliputi kayu, bambu, karung, kantong plastik, karung./jaring plastik dll

Pengemasan jarak jauh
Pengemasan jarak jauh disampingmelindungai dari kerusakan gaya mekanis, juga kerusakan karena penuaan dengan cara :
Pendinginan
Pengaturan kelembaban
Merubah atmosfer
Mengurangi kandungan gas etilen
Kombinasi 

Perbedaan diantara produk hortikultura perlu penanganan yang khusus selama pengangkutan dan penyimpananantara lain menyangkut :
Suhu penyimpanan
Kelembaban penyimpanan
Gas ma untuk penyimpanan
Kepekaan terhadap gas etilen
Kekerasan bau yang dikeluarkan
Kemampuan penyerapan bau

Persyaratan produk hortikultura sendiri
Kualitas produk : tepat panen untuk pengangkutan jarak pendek atau jarak jauh 
Kemauan konsumen : bervariasi

Mutu adalah gabungan dari sifat-sifat atau karakter dari sesuatu bahan yang dapat membedakan satu bahan dengan bahan lain dan mempengaruhi penerimaan bahan tersebut oleh konsumen
Mutu dapat ditentukan sebagai :
. Mutu pasar
. Mutu penyimpanan
. Mutu pengangkutan
. Mutu pengolahan
. Mutu konsumen (kesimpulan terakhir)

Standar mutu
Setiap negara menentukan standar mutu yang berbeda-beda
Pada umumnya standar mutu dalam negeri berbeda dengan standar mutu untuk ekspor
Standar mutu bagi negara-negara tertentu selalu diawasi oleh sebuah badan pemerintah seperti di USA ada FDA, di Indonesia ada SII, YLKI dll
Faktor-faktor yang menentukan mutu : besar, warna, bentuk, kematangan, penampilan dll.

Komponen-komponen mutu
Aspek organoleptis :
Penampilan : besar, bentuk, warna, kondisi cacat, kilap
Kondisi dan tingkat kerusakan : kautuhan kesegaran dan tingkat senescence
Tekstur : nilai rasa (feeling value) tangan dan dalam mulut (gigitan)
Flavor dan odor : kombinasi dari rasa dan aroma

Aspek non-organoleptis :
Nilai gizi : umumnya merupakan faktor paling belakang bagi konsumen

Penentuan kematangan buah
Kematangan fisiologis : tahapan dimana pertumbuhan telah maksimum dan proses pemasakan telah mulai, perlu data respirasi

Kematangan morfologis : tahapan dimana buah atau sayuran diterima baik oleh konsumen (kematangan komersial = tidak selalu pada saat kematangan fisiologis).
Kematangan komersial ditentukan dengan :
Warna : colorchart
Kekerasan : fruit pressure meter, pnetrometer, instrou universal testing instrumen
Komponen kimia : analisis kadar gula, analisis kadar asam
Bentuk dan ukuran
Daya hantar listrik: secara komersial jarang dilakukan

Pengawasan mutu 
Pengujian di lapangan :
Kontrol faktor produksi : analisis tanah, iklim, bibit, pestisida, pupuk dll.
Kontrol pertanaman : pengairan, penggunaan zpt, cara pemupukan dll.
Kontrol pemanenan : penentuan saat panen, saat panen tertinggi, penggunaan alat panen, teknik memperpanjang masa panen
Kontrol hasil panen (produk) : tes kimia dan nutrisi













Teknik Penanaman Obat

Oleh: Naroh
TEKNIK PENANAMAN TANAMAN OBAT

Banyaknya spesies tanaman obat ini tentu saja bermacam teknik pembudidayaannya. Bagi tanaman obat obligat dan mempunyai fungsi ganda telah diketahui, meskipun demikian teknik penanaman dapat dilakukan berdasarkan :
1.Sifat tanaman obat terhadap Agroklimat
a.Tanaman yang suka matahari (terbuka)/Light Plant. Contoh jahe-jahean, bawang, bidara upas dan lain-lain.
b.Tanaman yang suka naungan (Shade Plant). Contoh kapulogo, keji beling, kumis kucing dan lain-lain.
2.Sifat tanaman obat terhadap Habitat
a.Parasitis, contoh benalu, teh.
b.Saprofitis, contoh kayu angin.
c.Epipitis 
3.Umur tanaman obat
a.Annual Plant (tanaman semusim)
b.Perennial Plant (tanaman lebih dari 1 tahun = tahunan)
4.Simplisianya
a.Simplisia bunga/buah, contoh jambu biji, cengkeh, dan lain-lain
b.Simplisia daun, contoh tempuyung, teh, katuk dan lain-lain.
c.Simplisia akar/rimpang, contoh jahe, kunyit, dan lain-lain.

Pola tanam yaitu tata penanaman secara teratur pada suatu lahan dengan satu jenis tanaman atau lebih.
1.Monokultur, adalah menanam sejenis tanaman pada lahan. Bila tanaman itu pepohonan (Perenual), seprti kayu manis, kayu putih dan lain-lain monokultur banyak menghasilkan minyak Atsiri. Monokultur tanaman semusim, tentunya perlu ditata sesuai kebutuhan air selama hidupnya, misalnya padi dan jahe.
2.Polikultur dalam lahan yang sama disebut tumpang gilir (Multiple Cropping), tanaman obat keluarga (TOGA) di desa-desa penanamannya secara tumpang sari tajuk bertingkat (Multi Storey Cropping), misalnya dibawah pohon kelapa ditanam kayu manis dan temu-temuan. Pola tumpang gilir biasanya jenis tanaman obat yang suka naungan atau tahan ditanam dibawah bayangan (Shade Plant).

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk penanaman tanaman obat antara lain :
1.Faktor yang menentukan saat tanam di lahan kering adalah ketersediaan air, maka musim tanam harus jatuh pada musim hujan.
2.Penanaman dengan jarak tanam/barisan yang teratur
3.Penggunaan tajar hidup/mati bagi tanaman yang merambat, misalnya lada, saga dan lain-lain dapat meningkatkan produksi.
4.Penggunaan naungan yang dapat diatur untuk tanaman yang memerlukan naungan baik saat muda, remaja maupun dewasa.

Perlunya pengolahan tanah dalam penanaman tanaman obat adalah bertujuan menyiapkan tempat tumbuh yang serasi, sehingga tanaman dapat cepat tumbuh. Dengan pengolahan tanah sifat fisik tanah menjadi gembur.
1.Utamanya bagi tanaman monokultur semusim, pengolahan tanah sangat diperlukan. Bagi penghasil rimpang/umbi kecuali pengolahan tanah, pupuk kandang minimum 3 ton/ha dapat memperbesar rimpang/umbi.
2.Perenual Plant, gali lobang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm dan membalik sub soil dan top soil agar dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.


TEKNIK PEMELIHARAAN TANAMAN OBAT

Tujuan utama pemeliharaan tanaman adalah memberikan kenyamanan terhadap kehidupan tanaman, sehingga tanaman dapat memberikan hasil yang maksimum.
1.Faktor-faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman yaitu kebutuhan air, hara dan intensitas cahaya matahari. Faktor tersebut erat hubungannya dengan kualitas hasil obat yang diharapkan.
2.Gangguan OPT sering menekan produksi dalam hal ini kwantitasnya. Pengendalian dengan pestisida kimia akan membawa resiko residu yang memerlukan teknik dan rekayasa yang tepat.

Beberapa tindakan pemeliharaan yang perlu diperhatikan antara lain :
1.Bibit yang mudah stress saat pemindahan (Transplanting), misalnya tanaman tempuyung (Sonchus arvensis), tembakau (Nicotania tabacum) sebaiknya ditanam sore hari dan dibantu dengan naungan gedebok pisang.
2.Menyiram bibit yang belum mampu nglilir di lapangan. Tentu saja dipertimbangkan bila curah hujan < 7 mm
3.Pembumbunan tanah utamanya pada Zingiberaceae, yang mengharapkan rimpang yang besar, pembumbunan tanah diantara barisan tanaman untuk memperbaiki aerasi. Saat pertumbuhan rimpang cepat yaitu + 2 bulan setelah tanam.
4.Pemupukan perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman obat. Empat tepat pemupukan perlu diperhatikan :
a.Tepat jenis pupuk
b.Tepat waktu pemupukan
c.Tepat dosis pupuk
d.Tepat cara pemupukan
Pertimbangan pemakaian pupuk organik dan pupuk buatan (kimia) perlu dipikirkan, sebagai contoh tanaman obat yang memproduksi rimpang dan umbi pupuk organik wajib dilakukan dan pupuk buatan perlu diberikan untuk pertumbuhan vegetatifnya.
Pemupukan N (pupuk buatan) dapat meningkatkan alkaloida dalam akar pada pule pudak (Rauvolfia serpentina), demikian juga dapat meningkatkan kadar minyak pole (Mentha arvensis).
Saat yang tepat pemberian pupuk juga akan mempengaruhi hasil. Bagi tanaman obat perenual saat yang tepat pada awal dan akhir musim hujan, hal ini erat hubungannya dengan proses larutnya pupuk. Baik pupuk buatan maupun pupuk organik. Pemupukan di musim kemarau resiko plasmolisa akan terjadi. Pada annual dapat diberikan sesuai jadwal pemupukan atau hasil bahan obat yang diharapkan, annual plant air mudah terjangkau saat pemupukan.
Dosis pupuk adalah banyaknya pupuk yang diberikan pada tanaman, kurang dan kelebihan dosis anjuran tentu akan merugikan bagi tanaman maupun pemiliknya. Pupuk organik utamanya pupuk kandang dosis 3 ton/ha merupakan dosis terendah. Pada kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dosis 30 ton/ha dapat meningkatkan 7,5 kali daun segar dibanding tanpa dipupuk.
Cara pemupukan penting diperhatikan sifat masing-masing pupuk, pupuk yang cepat larut dan mudah menguap sebaiknya dibenam + 5 cm dalam tanah, contoh Urea, ZK dan TSP. Tanaman tahunan pupuk diberikan 1 – 1 ½ m dari pokok secara melingkar. Tanaman remaja yang tajuknya tidak lebih dari 1 m diberikan tepat dibawah tajuknya.
Tanaman obat obligat telah memiliki dosis pupuk anjuran masing-masing.
Tabel 1. dosis pupuk anjuran
Tanaman Obat
Kg / Ha
Ton / Ha
N
P
K
Pupuk Kandang
Jahe
Kunyit
Kencur
Kapulogo
100
45
60
100
60
45
50
75
100
50
45
75
10-13
10
3
5

5.Pemulsaan setelah tanam akan memberikan kelembaban tanah yang tinggi, sehingga dapat mendorong perkecambahan Zingiberaceae. Sudiarto (1978) mulsa daun alang-alang, jerami dapat meningkatkan hasil 35 % dibanding tanpa mulsa.
6.Penyiangan Clean Weeding kecuali dapat menekan pertumbuhan gulma, pada tanaman obat yang akan didestilasi itu harus bebas dari ikutan tumbuhan lain (herba) karena akan mempengaruhi khasiat obat, contoh pole (Mentha arvensis), kayu putih (Melaleuca leucadendron).
7.Perbaikan saluran draenase selama musim hujan terutama bagi tanaman obat yang tidak tahan genangan air, misalnya kapulogo (Ammomum kardamomum).
8.Topping/pemangkasan pucuk bagi tanaman obat simplisia daun, misalnya kembang tembaga (Catharanthus roseous). Pemangkasan pucuk dapat meningkatkan jumlah daun dan kandungan alkaloid pada akar.
9.Kastrasi bunga dilakukan dengan tujuan :
a.Meningkatkan produksi buah pada musim buah mendatang, misalnya lada (Pipper nigrum), kemukus (Pipper cubeba).
b.Meningkatkan kandungan obat, misalnya pada gadung (Dioscorea prazeri) dan gembili (Dloscorea composita) dapat meningkatkan kandungan diosgenin.
Pada pacing (Costus spasiosus) kastrasi meningkatkan kandungan diosgenin.
Pada kumis kucing (Orthosiphon aristatus) akan meningkatkan glukosa dan orthosifonin.
10.Pengaturan tanaman naungan
Tanaman pala (Miristica fragrant) pada saat muda perlu naungan, tapi pada saat produksi perlu terbuka. Agar perubahan ekosistem tidak drastis pengurangan naungan secara bertahap (Gradual).
11.Ngrendog, yaitu perbaikan postur tanaman yang merambat pada tajar, lada yang tumbuhnya tidak rindang.

Budidaya tanaman obat dalam skala besar memiliki resiko lebih besar terhadap serangan hama dan penyakit. Perlindungan tanaman dianjurkan PHT yaitu pengendalian secara fisik, mekanik, kultur teknik dan pestisida hayati.
Pengendalian secara fisik dengan cara mengumpulkan ulat/larva, lalu dimusnahkan dengan membakar. Bila kondisi serangan sudah melebihi ambang batas pengendalian, dianjurkan pengendalian dengan pestisida hayati atau nabati. Pemakaian pestisida kimia tidak dinajurkan, karena adanya residu tertinggal dalam jaringan tanaman.
Bahan pestisida nabati = Mimba (Azadiractha indica), tembakau (Nicotania tabacum) dan akar tuba (Derris ecliptica).
Bahan dicincang/ditumbuk sampai halus kemudian direndam dalam air, kemudian biarkan 1 malam.
Aplikasi dengan deterjen sebagai perekat disemprotkan pada pagi dan sore hari.
Hama gudang yang berbahaya adalah kumbang Lasioderma serricorne, larva kumbang ini merusak rimpang dan daun kering yang tersimpan di gudang. Pengendaliannya dengan fumigasi CSi dan pembersihan gudang sebelum dipakai.
Serangan lain adalah lalat utamanya pada kapulogo, disisi lain sebagai serangga penyerbuk tapi lalat sebagai vektor/pembawa bakteri Pseudomonas dan dapat pula menularkan Fusarium. Lalat ini juga berperan sebagai hama, larva memakan dan merusak rimpang.
Sampai saat ini pengendalian penyakit masih digunakan cara Seed Treathment Agremicin dan atau Benlate pada bibit rimpang, dan dengan cara mekanik yaitu mencabut dan membakar tanaman yang terserang penyakit.


TEKNIK PANEN TANAMAN OBAT

Memanen tanaman obat tidak seperti memanen komoditas lain yang mementingkan bobot/berat dalam produksinya, yang dipentingkan dalam memanen tanaman obat adalah kandungan khasiat obat.
1.Kandungan Khasiat obat tergantung daripada :
a.Cara pemungutan
b.Waktu pemungutan
c.Bagian tanaman yang mengandung obat
2.Proses biosintesis bahan berkhasiat dipengaruhi oleh :
a.Keadaan tanaman obat selama hidupnya. Kesehatan tanaman berpengaruh dalam pembentukan dan penyimpanan.
b.Lingkungan (cengkaman), berperan dalam kecepatan pembentuikan. Cahaya, suhu, kelembaban dan hujan.
3.Sifat kandungan kimia yang berkhasiat :
a.Mudah menguap
b.Mudah larut dalam air
c.Kuat teradsorpsi di jaringan.

Ketiga ketentuan yaitu kandungan kimia. Proses biosintesis dan sifat kimia tersebut diatas saling berkaitan dalam penentuan teknik memanen tanaman obat. Misalnya tanaman Klembak (Rheum officinale) memanen dimusim kemarau, karena pada musim hujan tidak mengandung senyawa antraguinon. Untuk jenis yang diambil daunnya, seperti keji beling (Stobilanthes crispus) memanennya daun yang sudah cukup umurnya, yaitu 4 – 6 bulan setelah tanam dan selanjutnya dipanen setiap 3 bulan. Daun duduk (Desmodium triguentrum) pemetikan daun dilakukan pada daun muda selanjutnya dipetik setelah 4 bulan setelah tanam dan dilanjutkan tiap 40 hari.
Buah dan biji yang dipanen harus masak betul untuk mendapatkan khasiat kimianya, sedang bila bunga diambil sebelum mekar sempurna.
Pada Zingiberaceae saat panen ditandai dengan gejala daun mulai menguning (senescense) sekitar bulan Agustus – September. Pada tanaman Atrepa belladenna yang mengandung alkaloid 41, hisosinmin terbentuk di akar kemudian dipindahkan dibagian batang/daun. Kemudian tangkai yang muda (tahun pertama) lebih banyak mengandung alkaloid dibanding di daunnya, pada saat berbunga lebih naik lagi.
Pada tanaman Artamesia cina kondisi Terpensid lakton maksimal di pucuk tanaman yang tidak mengalami pemetikan, bunga sebelumnya. Demikian pula minyak atsiri Mentha peperita maksimum pada musim berbunga. Kamper sutau terpenoid keton, terakumulasi dalam kayu amphora officinarum pada saat pokok tua 40 – 50 tahun.

Jenis organ tanaman yang dipanen :
1.Akar, umbi, dipanen diluar periode vegetasi, kadang ditunggu beberapa waktu supaya kondisi kimia lebih besar, tetapi tidak lama. Bila terlalu lama akan keras atau membusuk.
Dibersihkan dari tanah
Dibersihkan dari hama, dibuang.
2.Kortek, bagian luar dari batang/akar sampai dengan endodermis, jadi meliputi gabus, fellodermis dan parengim gabus. Alat yang digunakan congkel/menguliti terbuat dari bahan besi.
3.Daun, pada golongan herba pemanenan dilakukan sebelum bunga gugur, 2 – 3 kali setahun.
4.Bunga, cengkeh dipanen sebelum mekar.

Created by; Faried_23 April


Durian

Oleh: Naroh
PENANGANAN HASIL BUAH DURIAN

Tanaman durian merupakan salah satu komoditi unggulan buah-buahan di Indonesia, tanaman ini mempunyai ciri yang khas yaitu aroma yang harum dan rasa yang sangat manis, sehingga tanaman ini mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Peluang bisnis durian sangat bagus. Untuk pasar luar negeri pada tahun 1983-1987 dikirim ke negara Taiwan, Singapura, Malaysia dan Hongkong. Dan pada tahun 1989 permintaan meningkat ke negara Prancis, Belanda, Brunei, Australia, Saudi Arabia dan Jepang. Bahkan pada tahun 1999 di Jepang harga durian dapat mencapai 10.000 yen (Rp 700.000,-). Peluang pasar di Indonesia juga sangat bagus, harga durian berkualitas dapat mencapai Rp 30.000,-/kg. Sedangkan untuk buah durian dipasaran dan kualitasnya biasa-biasa saja mencapai Rp. 15.000,-/buah.
Untuk menghasilkan produk buah durian yang dapat bersaing di pasaran maka perlu suatu usaha penanganan hasil selepas panen. Penanganan hasil buah durian dimulai dari tingkat petani, pedagang pengumpul, pedagang kaki lima/pengecer sampai ke tingkat swalayan/supermarket.
1.Penanganan Hasil di Tingkat Petani
Penanganan hasil yang biasa dilakukan oleh petani dimulai dari penentuan saat panen, cara panen dan pengumpulan.
a.Penentuan saat panen
Pada umur sekitar 8 tahun, tanaman durian sudah mulai berbunga. Musim berbunga jatuh pada waktu kemarau, yakni bulan Juni-September sehingga bulan Oktober-Februari biasanya petani sudah mulai melakukan pemetikan buah/panen. Petani memetik buah yang sudah kelihatan tua saja, yaitu berdasarkan umur dari buah tersebut dihitung dari mulai tanaman berbunga.
b.Cara panen
Pada umumnya cara panen yang sering dilakukan petani adalah dengan memanjat tanaman, kemudian memotong tangkai buahnya. Untuk menghindari rusaknya buah durian hasil panen karena jatuh ke tanah pada tanaman yang sangat tinggi, biasanya petani menggunakan alat bantu berupa tali yang dikerek. Buah durian yang sudah dipetik diikat tangkainya, kemudian dikerek oleh orang yang ada dibawah (seperti orang menurunkan bendera pada saat upacara).
c.Pengumpulan
Setelah durian dipetik penanganan selanjutnya yaitu pengumpulan. Setelah buah dibersihkan dari tanah atau kotoran yang menempel maka buah dikumpulkan di suatu tempat yang teduh, kemudian dipisahkan buah yang rusak dan terkena serangan hama dan penyakit, selanjutnya dijual ke pedagang pengumpul atau langsung dijual sendiri. Untuk buah yang belum terlalu tua biasanya petani melakukan penyimpanan terlebih dahulu yaitu dengan mengumpulkan buah di gudang.

2.Penanganan Hasil di Tingkat Pedagang Pengumpul
Selain petani, pedagang pengumpul merupakan aktor yang menentukan baik buruknya buah yang beredar di pasaran, karena selama ini biasanya petani sering menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul tersebut. Di tingkat pedagang pengumpul penanganan hasil yang umum dilaksanakan adalah sebagai berikut :
a.Pengangkutan
Buah durian yang berasal dari petani diangkut dengan menggunakan mobil bak terbuka dengan cara menumpuknya, alas dari bak mobil tersebut biasanya diberi jerami dengan tujuan untuk menekan terjadinya kerusakan buah akibat bergesekan dengan bak mobil.
b.Sortasi dan Grading
Setelah buah sampai ditempat, penanganan selanjutnya yang dilakukan pedagang pengumpul yaitu sortasi dan grading. Sortasi yaitu memisahkan buah yang rusak akibat pengangkutan dengan buah yang baik, sedangkan grading atau pengkelasan yaitu memisahkan buah berdasarkan ukuran buah, kultivar buah dan tingkat kematangan buah serta tingkat kesehatan buah. 

c.Penyimpanan 
Untuk buah yang tidak langsung dipasarkan biasanya pedagang pengumpul menyimpan buah di gudang yang sirkulasi udaranya baik sampai buah siap untuk dipasarkan.
d.Pengemasan 
Untuk pemasaran selanjutnya khususnya untuk pemasaran jarak jauh, untuk menghindari terjadinya kerusakan buah yang tinggi, pedagang pengumpul biasanya mengemas buah durian dalam kotak yang terbuat dari kayu yang dibuat jarang-jarang, sehingga sirkulasi udara baik. Akan tetapi untuk pengangkutan jarak dekat biasanya hanya dengan menggunakan mobil bak terbuka kemudian duriannya ditumpuk.

3.Penanganan Hasil di Tingkat Pedagang Kaki Lima/Pengecer
Sebagaimana diketahui bahwa yang disebut dengan pedagang kaki lima adalah pedagang yang biasa menjajakan barang dagangannya di pinggir jalan. Maka di tingkat pedagang kaki lima penanganan yang dilakukan hanya sebatas penanganan pada saat penjualan buah durian tersebut. Penanganan yang dilakukan adalah dengan membuat saung-saung, kemudian untuk menarik minat pembeli biasanya ada durian yang digantungkan. Selain itu ada juga yang membuat rak-rak dari kayu kemudian buah durian ditata, dan biasanya tiap tahapan rak menjadi pembeda dari harga durian yang dijual. Khsusnya untuk wilayah DIY yang sering kita lihat, biasanya durian dijual pada malam hari dengan cara buah dihamparkan pada terpal sehingga pembeli dapat leuasa memilih buah durian sesuai dengan yang diinginkan

4.Penanganan Hasil di Tingkat Swalayan/Supermarket
Di pasar swalayan atau supermarket akan jarang sekali kita jumpai buah durian yang dijual masih dalam keadaan utuh, umumnya di supermarket durian yang dijual adalah daging buahnya saja yang sudah dikemas. Daging buah dikemas dalam Cup steroform dan dibungkus dengan plastik Poly Ethylene dan disimpan ditempat pendingin dengan suhu yang telah ditentukan.



























ANALISIS

1.Penanganan Hasil di Tingkat Petani
Sebenarnya penanganan hasil yang telah dilakukan petani selama ini cukup baik, akan tetapi masih perlu lagi adanya perbaikan-perbaikan menyangkut :
a.Penentuan saat panen
Pada penentuan saat panen sebaiknya petani tidak hanya berdasarkan umur dari buah tersebut, karena hal itu belum tentu menjamin tingkat ketuaan dan kematangan buah malahan akan menyebabkan terpetiknya buah yang belum tua sehingga dapat menurunkan harga buah.  
Selain berdasarkan umur buah durian juga mempunyai kriteria khusus untuk buah yang sudah matang dan hal ini perlu dipetrhatiakn oleh petani. Kriteria tersebut adalah umumnya ditandai dengan bau harum yang menyengat. Pada durian yang sudah masak bila diketuk duri atau buahnya akan terdengar dentang udara antara isi dan kulitnya. Warna durian yang hampir masak agak berbeda-beda tergantung pada kultivarnya. Panen diusahakan sebelum musim hujan tiba karena air hujan dapat merusak kualitas buah. 
b.Cara panen
Buah durian yang sudah matang akan jatuh sendiri. Untuk menjaga agar buah tidak langsung jatuh, kira-kira sebulan sebelum matang buah dapat diikat dengan tali plastik. Tujuan pengikatan tersebut agar tangkai buah yang terlepas dari batang atau ranting pohon tetap menggantung pada tali sehingga buah durian tersebut dapat diambil dalam keadaan utuh.
Untuk buah durian yang dipetik dengan menggunakan pisau yang tajam, petani harus memperhatikan tangkai buah yang dipotong. Tangkai buah dipotong mulai dari bagian paling atas, ± 1,5 cm dari dahan. Pemotongan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena di tempat ini terdapat bahan tunas yang akan berbunga pada musim berikutnya. Buah durian yang terletak pada bagian pohon yang tinggi sebaiknya dipetik dengan menggunakan alat bantu yang sesuai agar tidak jatuh ke tanah. Durian yang jatuh ke tanah biasanya retak, daging buahnya menjadi asam/pahit karena terjadi fermentasi pembentukan alkohol dan asam.
c.Pengumpulan
Untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, sebaiknya pada saat pengumpulan petani juga melakukan sortasi dan grading sehingga akan diperoleh harga yang berbeda-beda dan menguntungkan petani.

2.Penanganan Hasil di Tingkat Pedagang Pengumpul
a.Pengangkutan
Untuk menghindari tingginya tingkat kerusakan buah, maka pedagang pengumpul perlu memperhatikan jarak dan waktu pengangkutan. Untuk jarak yang jauh dan dalam skala besar sebaiknya alat pengangkutan yang digunakan harus seimbang yaitu dengan menggunakan truk. Guna mengantisipasi turunnya hujan dan teriknya sinar matahari pada saat pengangkutan, maka sebaiknya buah ditutup dengan menggunakan terpal. Waktu yang baik untuk pengangkutan adalah pada malam hari.
b.Sortasi dan Grading
Pedagang pengumpul harus harus selektif dalam melakukan sortasi dan grading, hal ini berpengaruh terhadap kualitas buah. Buah yang sudah rusak dan terkena serangan hama/penyakit harus dipisahkan dari buah yang baik.
Khusus untuk buah durian yang akan diekspor, pedagang pengumpul harus memperhatikan klasifikasi kualitas/mutu buah durian.
Buah durian diklasifikasikan dalam 3 jenis mutu, yaitu Mutu I, Mutu II dan Mutu III.
Kerusakan: mutu I = tidak ada (bebas penyakit dan serangga); mutu II = tidak ada (bebas penyakit dan serangga); mutu III = tidak ada (bebas penyakit dan serangga). 
Cacat: mutu I = tidak ada; mutu II = ada; mutu III = ada. Rasa dan aroma: mutu I = baik sesuai kultivar; mutu II = baik sesuai kultivar; mutu III = baik sesuai kultivar. 
Kekerasan daging: mutu I = keras/sedang; mutu II = keras/sedang; mutu III = keras/sedang. 
Kesegaran buah: mutu I = segar; mutu II= segar; mutu III = segar. 
Warna daging buah: mutu I = sesuai kultivar/kuning; mutu II = sesuai kultivar/kuning; mutu III = sesuai kultivar/kuning. 
Kesegaman Kultivar: mutu I = seragam; mutu II = seragam; mutu III = seragam. 
Perbandingan berat dengan biji: mutu I >2; mutu II >1; mutu III = boleh < 1. 
c.Penyimpanan
Sebelum disimpan sebaiknya buah durian diberi perlakuan penanganan. Durian yang sudah terpilih dicuci dan disemprot dengan air agar kotoran yang menempel pada kulitnya menjadi bersih. Selanjutnya buah dicelupkan ke dalam air yang telah diberi fungisida Aliette 800 WP yang berbahan aktif Aluminium tris (Oethy/phosphonate) 22 cc/liter. Tujuan pencelupan ini adalah untuk menghindari serangan busuk buah yang disebabkan oleh jamur Phytophtora sp selama pemeraman dan transportasi. Lalu buah dikeringanginkan. Durian beserta petinya dimasukkan ke dalam gudang yang cukup mendatangkan penerangan. 
Di tempat penyimpanan sebaiknya setiap tangkai durian diberi label khusus atau dicat dengan warna tertentu untuk menunjukkan kebun asal dan kultivar dar durian tersebut.
d.Pengemasan
Untuk pengemasan yang dilakukan pedagang pengumpul selama ini sudah cukup baik, akan tetapi untuk buah durian yang akan diekspor pedagang pengumpul harus memberikan perlakuan khusus sehingga buah durian dapat diterima di pasaran luar negri.
Buah durian yang akan diekspor diberi perlakuan: setelah buah kering, buah dibungkus kantong plastik dan diikat dengan tali rafia Setiap kantung plastik berisi satu butir buah durian. Buah yang sudah dibungkus kantung plastik dibungkus lagi dengan kantung kertas semen. Setelah itu, dimasukkan ke dalam kotak karton setebal 3 mm. Setiap bungkus berisi 5-6 butir durian sehingga setiap kotak karton berisi 10-15 kg durian. Kotak ini dilekat dengan lakban (perekat plastik) tebal yang tidak mudah robek jika terkena gesekan. Teknologi pengemasan ini memperhatikan adanya lubang udara agar ada sirkulasi udara, tetapi juga ada lapisan plastik luar untuk menahan keluarnya bau, sehingga tidak ada kontak antar udara di dalam kotak pengepakan dengan udara luar maka jika di dalam ada durian yang matang baunya tidak tercium menyengat sampai keluar.
Bila ingin menghasilkan durian beku untuk dipasarkan ke tempat yang jauh, maka dapat dilakukan cara pengepakan fakum udara, cara ini banyak dipakai oleh petani Thailand. Setelah dikupas kulitnya, durian dimasukkan ke dalam alat fakum udara selama 35-40 menit dengan suhu 40oC di bawah nol. Setelah itu, buah durian dimasukkan ke dalam plastik berukuran 300 gram dan diletakkan dalam kamar pendingin dengan suhu 18 derajat C di bawah nol.

3.Penanganan Hasil di Tingkat Pedagang Kaki Lima/Pengecer
Hal yang perlu diperhatikan oleh pedagang kaki lima adalah mengenai peletakan buah pada saat dijual. Sebaiknya buah dijajakan dengan diberi alas karung atau terpal, sehingga buah tetap terjaga kebersihannya dan terhindar dari kerusakan. Selain itu sebaiknya sebelum dijajakan terlebih dahulu dilakukan sortasi dan grading untuk menentukan nilai jual.

4.Penanganan Hasil di Tingkat Swalayan/Supermarket
Penanganan yang dilakukan swalayan sudah sangat bagus, hanya saja harus diperhatikan betul-betul suhu pendingin tempat penyimpanan daging buah durian yang sudah dikemas.


Tanaman Obat

Oleh: Naroh

PENGENALAN SIMPLISIA TANAMAN OBAT


A.TUJUAN
Mahasiswa mengenal simplisia tanaman obat dan mengetahui khasiat dari masing-masing simplisia (Simplisia daun, batang, buah dan akar).

B.DASAR TEORI
Para ahli dari berbagai negara seperti Jerman, India, Cina, Australia, Indonesia dan sebagainya, tidak henti-hentinya mengadakan penelitian dan pengujian berbagai tumbuhan yang secara tradisional dipakai untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Hasil penelitian dan pengujian secara ilmiah tersebut disimpulkan bahwa penggunaan tumbuhan tertentu sebagai ramuan obat untuk penyakit tertentu dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, dari penelitian dan pengujian para ahli, telah diketahui adanya komposisi kandungan kimiawi obat-obatan yang terdapat pada jenis tumbuhan tertentu yang telah lama dipakai oleh nenek moyang kita sebagai ramuan obat tradisional.
 Tanaman obat sendiri dapat diartikan sebagai tanaman atau tumbuhan yang secara alami meiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Bagian tanaman atau tumbuhan yang mengandung zat yang mampu mengobati penyakit disebut simplisia. 
Berdasarkan simplisia tanaman obat digolongkan sebagai berikut :
1.Simplisia akar, rimpang dan stolon
Contoh : jahe, pasak bumi dan gembili.
2.Simplisia batang (korteks)
Contoh : kayu manis, mahoni dan tempuyung
3.Simplisia daun
Contoh : kumis kucing, keji beling, tapak liman, sirih, kayu putih, pegagan.
4.Simplisia bunga dan buah
Contoh : makuto dewa, kapulaga, cengkeh.
Penggunaan simplisia dalam negeri dari tahun ke tahun meningkat, tahun 1983 sebanyak 1.687.033.032 gram terdiri dari 154 jenis tanaman, tahun 1984 sebanyak 2.217.226.511 gram terdiri dari 164 jenis. Pada kurun waktu 1999 – 2004 di negara-negara Eropa diperkirakan permintaan terhadap simplisia mencapai 66 % dari permintaan dunia. Di Indonesia sendiri penggunaan simplisia terus meningkat sebagaimana tampak pada tabel berikut ini :

 Tabel. Penggunaan Simplisia Tingkat Nasional
Nama tanaman
Penggunaan (ton)
Temulawak 
Lempuyang gajah
Jahe
Lengkuas
Cabai jamu
Kedaung
Kencur
Lempuyang wangi
Temu hitam
Pulasari
Adas
Bangle
Kunyit
Alang-alang
Temu kunci
Cabai 
285
220
200
160
155
140
107
105
67
64
64
63
55
50
48
37

C.ALAT DAN BAHAN
1.Alat :
1.Alat tulis
2.Kaca pembesar
3.Pisau
2.Bahan :
Contoh simplisia tanaman obat (akar, batang, daun, buah, bunga)


D.CARA KERJA
1.Siapkan alat dan bahan.
2.Gambar tanaman obat, beri keterangan : nama daerah, nama latin, simplisia dan kegunaan.
3.Buat laporan sementara.


E.HASIL PENGAMATAN
1.Simplisia Akar
KENCUR
Kaempferia galanga L.



KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Kaempferia.
Jenis : Kamepferia galanga L.
Nama umum : Kencur.

NAMA DAERAH
Aceh ceuko atau tekur, Batak keciwer, Sumatera Barat Cakue, Sunda Cikur, Kalimantan sikor, Bali cekuh, Makaqsar cakuru, Ambon asauli, dan Irian Ukap.

KHASIAT
Kencur biasa digunakan sebagai bumbu aneka masakan sehari-hari seperti pecel dan karedok. Selain itu daunnya bisa dimanfaatkan sebagai lalap atau campuran urap. Rimpang muda dapat dibuat minuman beras kencur hingga kosmetika tradisional. Manfaat kencur dibidang kesehatan juga membuat kencur banyak diusahakan orang. Tak hanya rimpangnya, daun kencur pun laku dijual di pasar.
Beberapa khasiat kencur dalam hal pengobatan, sebagai berikut :
1.Menyembuhkan batuk pada anak-anak dan balita
2.Mengatasi muntah-muntah
3.Mengobati tetanus
4.Mengatasi keracunan tempe bongkrek
5.Mengobati keracunan jamur

JAHE EMPRIT
Zingiber officinale ROSC.


SINONIM
Zingiber majus Rumph.; Z. minus Rumph. 

KLASIFIKASI 
Divisi : Spermatophyta.
Sub Devisi : Angiospermae.
Kelas : Monocotyledonae.
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Zingiber
Jenis : Zingiber officinale Rosc.
Nama umum : Jahe emprit. 

NAMA DAERAH
Halia (Aceh), Bening (Gayo), Bahing (Batak), Lahia (Nias), Sipadeh (Minangkabau), Jahi (Lampung). Jahe (Sunda), Jae(Jawa Tengah), Jhai (Madura) Cipakan (Bali), Sipados (Kutai), 

KHASIAT
Rimpang Zingiber officinale berkhasiat sebagai pelega perut, obat batuk, obat rematik, penawar racun. Untuk pelega perut dipakai  15 gram rimpang segar Zingiber officinale dicuci, dibakar selama 15 menit, dimemarkan, diseduh dengan 1 gelas air panas, ditambah 1 sendok makan madu, diaduk, diminum sekaligus.










KUNCI PEPET
Kaempferia angustifolia Rosc.


SINONIM
Kaempferia undulata T. & B.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Kaempferia
Jenis : Kaempferia angustifolia Rosc.
Nama umum : Kunci pepet.
NAMA DAERAH
Kunci pepet, kunci kunat, 

KHASIAT
Rimpang Kaempferia angustifolia berkhasiat sebagai obat mulas, obat disentri, dan obat mencret, juga berkhasiat sebagai pelangsing tubuh, sedangkan bunganya untuk memperbanyak air susu ibu.
Untuk obat mulas dipakai ± 10 gram rimpang segar Kaempferia angustifolia. Direbus dengan 1 gelas air selam 15 menit. Setelah dingin disaring, hasil saringannya diminum sekaligus.

KUNYIT
Curcuma domestica Val


SINONIM
Curcuma domestica Rumph.; C. Longasensu Vanon L.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zinguberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : Curcuma domestica Val.
Nama umum : Kunyit.

NAMA DAERAH
Kunir, konyek, kunyeh, temu kuning, kekunye, huning, kunidi, ondil, guni, gulati, kaungi, gogohiki, hamu, henda, hingiro, konden, undre, janar, jiten, cahang, dio, kalesau, wingir, dingira, kolawak, kolalagu, pagodon, rame, nikwai, mingguai, ina, kandeifu, wingira.

KHASIAT
Untuk obat menghentikan pendarahan, membersihkan perut, mengeluarkan gas dari usus, obat gatal, anti kejang, pembengkakan selaput lendir mulut (gingivitis), obat kudis, borok, bengkak, radang umbai usus buntu, radang rahim, mati haid, kurang darah, tekanan darah tinggi, demam nifas, mencret, kepala pusing, keputihan, penyakit kuning.

2.Simplisia daun

TAPAK DARA
Catharanthus roseus [L] G. Don



SINONIM
Ammocallis rosea Small, Lochnera rosea Reich., Vinca rosea L.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : 
Suku : Apocynaceae 
Marga : Catharanthus
Jenis : Catharanthus roseus [L] G. Don
Nama umum : Tapak Dara.



NAMA DAERAH
Rutu – rutu, rumput jalang (Sumatera). Kembang sari cina, kembang serdadu, kembang tembaga, paku rane, tapak doro, cakar ayam, tai lantuan (Jawa). Tapak lima (Bali). Sindapor (Sulawesi). Usia (Maluku).

SIFAT DAN KHASIAT
Herba sedikit pahit rasanya, sejuk, agak beracun (toksik), masuk meridian hati. Berkhasiat sebagai anti-kanker (antineoplastik), menenangkan hati, peluruh kencing (diuretik), menurunkan tekanan darah (hipotensif), penenang (sedatif), menyejukkan darah, penghenti perdarahan (hemostatis), serta menghilangkan panas dan racun. Sedangkan akar tapak dara berkhasiat sebagai peluruh haid.

BAGIAN YANG DIGUNAKAN
Herba dan akar. Pemakaian segar atau yang telah dikeringkan.

INDIKASI
Herba berkhasiat untuk mengatasi :
Tekanan darah tinggi (hipertensi),
Kencing manis (diabetes mellitus),
Kencing sedikit (oliguria),
Hepatitis,
Perdarahan akibat turunnya jumlah trombosit (primary throbocytopenic purpura),
Malaria,
Sukar buang air besar (sembelit),
Kanker : penyakit hodgkin’s, chorionic epithelioma, leukemia limfositik akut, leukemia monositik akut, limfosarkoma, dan retikulum sel sarkoma.

Akar berkhasiat :
Haid yang tidak teratur.



ILER
Coleus acutellarioides [L.] Benth.


SINONIM
C.atropurpureus Benth., C. blumei Benth., C.ingratus Benth., C.laciniatus Benth., Plectranthus scutellarioides (L.) Benth.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Labiateae
Marga : Coleus
Jenis : Coleus acutellarioides [L.] Benth.
Nama umum : Iler.

NAMA DAERAH
Si gresing (Batak), adang-adang (Palembang), miana, pilado (Sumbar). jawer kotok (Sunda), iler, kentangan (Jawa), dhin kamandhinan (Madura). Rangon tati, serewung (Minahasa), ati-ati, panci-panci, saru-saru (Bugis), majana (Manado).
KHASIAT
Berbau harum, sedang rasanya agak pahit, sifatnya dingin. Mempunyai khasiat sebagai peluruh haid (emenagog), perangsang nafsu makan, penetralisir racun (antitoksik), menghambat pertumbuhan bakteri (antiseptik), membuyarkan gumpalan darah, mempercepat pematangan bisul, dan pembunuh cacing (vermisida). Bagian yang digunakan adalah daun dan akar.


KUMIS KUCING
Orthosiphon spicatus B.B.S.


-SINONIM
O. aristatus (Bl.) Miq., O. gandiflorus Bold., O. gandiflorum et aristatum BL., O. longiflorum Ham., O. spiralis Merr., O. stamineus Benth., Clerodendranthus spicatus (Thunb.) C.Y.Wu, Trichostemma spiralis Lour.
 
KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Tubiflorae 
Suku : Labiatae 
Marga : Orthosipon
Jenis : Orthosipon spicatus B. B. S.
Nama umum : Kumis kucing.

NAMA DAERAH
Kumis kucing (Melayu). kumis kucing (Sunda), remujung (Jawa), sesalaseyan, seongot koceng (Madura).

KHASIAT
Herba kumis kucing rasanya manis sedikit pahit, sifatnya sejuk. Berkhasiat sebagai anti radang, peluruh kencing (diuretik), menghilangkan panas lembab, serta menghancurkan batu saluran kencing. Bagian yang digunakan adalah herba, baik yang segar maupun yang telah dikeringkan.

INDIKASI
Herba kumis kucing digunakan untuk pengobatan :
Infeksi ginjal akut dan kronis,
Infeksi kandung kencing (sistitis), Kencing batu,
Sembab karena timbunan cairan di jaringan (edema),
Kencing manis (diabetes mellitus),
Tekanan darah tinggi (hipertensi), dan
Rematik gout.


DAUN WUNGU
Graptophyllum pictum [L.] Griff.


SINONIM
Graptophyllum hortense. Nees.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Acanthaceae 
Marga : Graptophyllum
Jenis : Graptophyllum pictum Griff.
Nama umum : Daun ungu.

NAMA DAERAH
pudin (Simular), dangora, puding, p. perada (Melayu). daun ungu, handeuleum (Sunda), demung, tulak, wungu (Jawa), karaton, karotong (Madura). temen (Bali). kabi-kabi (Ternate)

KHASIAT
Daun berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretik), mempercepat pemasakan bisul, pencahar ringan (laksatif), dan pelembut kulit (emoliens). Sedangkan bunganya berkhasiat sebagai pencahar haid.
INDIKASI
Daun berkhasiat untuk mengatasi :
Wasir (hemoroid) dan
Sembelit (konstipasi).
Bunga berkhasiat untuk mengatasi :
Datang haid tidak lancar.

CARA PEMAKAIAN
Daun segar sebanyak 10 – 15 g direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun atau kulit batang secukupnya dibersihkan lalu dipipis. Gunakan untuk menutup bisul, borok luka, sakit telinga, payudara bengkak karena bendungan ASI, atau bagian tubuh yang bengkak (memar)akibat terbentur benda keras atau terpukul. Air perasan daun untuk sakit telinga.

MENIRAN
Phyllanthus urinaria l.



KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Geraniales
Suku : Euporbiaceae
Marga : Phyllanthus
Jenis : Phyllanthus urinaria l.
Nama umum : Meniran.

NAMA DAERAH
Meniran (Jawa)

KHASIAT
Untuk mengobati penyakit ginjal, kuning, mencret, kencing nanah, ayan, sakit perut, sakit gigi, kencing kurang lancar, demam, tetanus, darah kotor, kejang gagau, putih telur dalam kencing, kencing batu.
MURBEI
Morus alba L.


SINONIM
M. australis Poir., M.atropurpurea Roxb., M. constantinopalitana Poir., M. indica L., M.rubra Lour.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Urticales
Suku : Moraceae 
Marga : Morus
Jenis : Morus alba L.
Nama umum : Murbei.

NAMA DAERAH
Kerta(Gayo), kitau (Lampung). Murbei, besaran Jawa).

KHASIAT
Daun bersifat pahit, manis, dingin, masuk meridian paru, dan hati. Berkhasiat sebagai peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), peluruh kencing (diuretik), mendinginkan darah, pereda demam (antipiretik), dan menerangkan penglihatan.
Buah bersifat manis, dingin, masuk meridian jantung, hati, dan ginjal. Memelihara darah dan “yin”, memperkuat ginjal, diuretik, peluruh dahak (ekspektoran), hipotensif, penghilang haus, meningkatkan sirkulasi darah dan efek tonik pada jantung.
Kulit akar bersifat manis, sejuk, masuk meridian paru. Berkhasiat sebagai anti asmatik, ekspektoran, diuretik, dan menghilangkan bengkak (detumescent).
Ranting bersifat pahit, netral, masuk meridian hati. Berkhasiat sebagai karminatif, antipiretik, analgesik, antireumatik, dan merangsang pembentukan kolateral.

INDIKASI
Daun (Sang ye) berkhasiat untuk :
Demam karena flu, malaria,
Batuk,
Sakit kepala, sakit tenggorok, sakit gigi, rematik,
Darah tinggi (hipertensi),
Kencing manis (diabetes mellitus),
Kaki gajah 
(elephantiasis tungkai bawah),
Sakit kulit, bisul,
Radang mata merah (conjunctivitis acute)
Memperbanyak ASI,
Keringat malam,
Muntah darah dan batuk darah akibat darah panas,
Kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia), dan
Gangguan pada saluran cerna.

Kulit akar (Sang bai pi) berkhasiat untuk : 
Sakit gigi,
Tidak datang haid,
Batuk berdahak, sesak nafas (asma),
Muka bengkak (edema),
Kencing yang nyeri dan susah (disuria), dan
Cacingan.



Buah (Sang shen) berkhasiat untuk
Tekanan darah tinggi (hipertensi),
Jantung berdebar (palpitasi),
Kencing manis (diabetes mellitus), rasa haus dan mulut kering,
Sukar tidur (insomnia),
Batuk berdahak,
Pendengaran berkurang dan penglihatan kabur,
Telinga berdenging (tinnitus), neurastenia,
Sakit otot dan persendian, sakit tenggorok, serta
Rambut beruban sebelum waktunya.

Ranting (Sang zhi) berkhasiat untuk :
Rematik,
Tangan dan kaki terasa gatal dan sakit,
Sakit pinggang (lumbago),
Keram pada tangan dan kaki,
Tekanan darah tinggi, serta
Menyuburkan pertumbuhan rambut.



PULE PANDAK
Rauwolfia serpentina Benth.


SINONIM
Hunteria sundana Miq. ; Ophyoxilon obversum miq.

KLASIFIKASI
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Apocynales
Suku : Apocynaceae
Marga : Rauwolfia
Jenis : Rauwolfia serpentina Benth.
Nama umum : Pulu pandak

NAMA DAERAH
Akar tikus (sumatera), Pule pundak (Jawa).

SIFAT DAN KHASIAT
Akar bersifat pahit, dingin, dan sedikit beracun. Akar Rauwolfia serpentina berkhasiat sebagai obat kolera dan obat tekanan darah tinggi. Untuk obat kolera dipakai ± gram akar segar Rauwolfia serpentina, dipotong kecil-kecil, ditambah ¼ sendok teh garam dicampur, kemudian dikunyah, airnya ditelan. Bagin yang digunakn adalah akar, batang, dan daun. akar untuk penyimpanan dicuci dan dipotong kecil-kecil lalu dijemur.

INDIKASI
Akar berkhasiat untuk :
Tekanan darah tinggi ( hipertensi ),
Sakit kepala dan rasa berputar ( vertigo ) pada hipertensi,
Sakit perut pada disentri, diare, muntah,
Panas yang menetap, panas pada malaria, influenza,
Radang kandung empedu, hepatitis akut,
Kejang pada penyakit ayan ( epilepsi )
Sussah tidur ( insomnia )
Bisul, kudis ( scabies ), biduran (urtikaria )
Gigitan ular, kalajengking dan luka memar
Batang dan daun berkhasiat untuk :
Influenza, sakit tenggorok,
Malaria
Tekanan darah tinggi
Diare, muntah karena angin,
Hernia,
Bisul, memar.
TEMBELEKAN
Lantana camara L.


SINONIM
L. acuelata L., L. antillana Rafin, L. mutabilis Salisb., L. polyacanthus SCH., L.scabrida Soland, L. viburnoides Blanco.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Verbenaceae 
Marga : Lantana.
Jenis : Lantana camara L.
Nama umum : Tembelekan.

NAMA DAERAH
Bunga pagar, kayu singapore, tahi ayam (Melayu). kembang satek, saliyara, saliyere, tai hayam, t. kotok, cente (Sunda), kembang telek, oblo, puyengan, pucengan, tembelek, tembelekan, teterapan, waung, wileran, (Jawa), kamanco, mainco, tamanjho (Madura).

KHASIAT
Akar bersifat tawar, sejuk. Berkhasiat sebagai pereda demam (antiperetik), penawar racun (antitoksik), penghilang nyeri (analgesik), dan penghenti perdarahan (hemostatis). Daun bersifat pahit sejuk, berbau, dan sedikit beracun (toksik), yang berkhasiat menghilangkan gatal (anti-pruritus), anti-toksik, menghilangkan bengkak dan perangsang muntah. Sedangkan bunga tembelekan manis rasanya dan sejuk, berkhasiat sebagai penghenti perdarahan. 

INDIKASI
Bagian akar berkhasiat :
Influenza disertai demam tinggi,
TBC kelenjar (skrofuloderma),
Rematik, bengkak terbentur (memar),
Keputihan (leukorea),
Kencing nanah (gonore),
Gondongan (parotitis, mumps), dan
Sakit kulit yang berkaitan dengan gangguan emosi (neurodermatitis).

Bunga berkhasiat :
TB paru dengan batuk darah, dan
Sesak napas (asmatik)
Daun berkhasiat untuk mengatasi
Sakit kulit, gatal-gatal, bisul, luka,
Batuk, dan
Rematik, memar, bengkak.

CATATAN
Kelebihan dosis menyebabkan pusing dan muntah.
Perempuan hamil jangan minum rebusan tembelekan, karena dapat menyebabkan kematian janin.





3.Simplisia buah 

MANGKUDU
Morinda citrifolia L.


 KLASIFIKASI
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Rubiales
Suku : Rubiaceae
Marga : Morinda
Jenis : Morinda citrifolia L.
Nama umum : Mangkudu

NAMA DAERAH
Keumudu (Aceh), Leodu (Enggano), Bakudu (Batak), Bangkudu (Batak Toba), Bangkudu (Angkola), Paramai (Mandailing) Makudu (Nias), Neteu (Mentawai), Bingkudu (Minangkabau), Mekudu (Lampung), Bengkudu (Melayu). Pace (Jawa Tengah).

KHASIAT
Buah dan daun Morinda citrifolia berkhasiat sebagai obat batuk dan, radang usus, daunnya berkhasiat sebagai obat masuk angin, obat amandel, obat mulas dan obat kencing manis.
Untuk obat batuk dipakai  100 gram buah segar Morinda citrifolia yang sudah masak, dicuci, ditumbuk sampai halus, ditambah, 1/4 gelas air matang, 1 sendok teh cuka, dan 1 gram garam, diaduk sampai rata, diperas dan disaring. Hasil saringan diminum sehari tiga kali sama banyak, pagi, siang, dan sore hari.

JERUK PURUT
Citrus hystrix D.C.

SINONIM
C. paeda Miq.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Geraniales
Suku : Rutaceae
Marga : Citrus
Jenis : Citrus hystrix DC.
Nama umum : Jeruk Purut.


NAMA DAERAH
Unte mukur, u. pangir (batak), lemau purut, 1. sarakan (Lampung), Limau purut, jeruk wangi, jeruk purut (Jawa), jeruk linglang, jeruk purut (Bali).

KHASIAT
Daun jeruk purut berkhasiat stimulan dan penyegar. Kulit buah berkhasiat stimulan, berbau khas aromatyik, rasanya agak asin, kelat, dan lama-kelamaan agak pahit. Bagian yang digunakan adalah buah dan daun.

JERUK LEMONTE
Citrus Limon L.


SINONIM
C. limonellus Miq., C.medica Linn. Var. acida Brandis., C.acida Roxb., C. aurantium L. var. amara Engl., C. javanica Blume., C.notissima Blanco.

KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Rutales
Suku : Rutaceae
Marga : Citrus
Jenis : Citrus limon L.
Nama umum : Jeruk Lemonte
NAMA DAERAH
Kelangsa (Aceh), jeruk nipis (Sunda), jeruk pecel (Jawa). Jeruk alit, kaputungan, lemo (bali), dongaceta (Bima), mudutelong (Flores),

SIFAT DAN KHASIAT
Buah jeruk nipis rasanya pahit, asam, sedikit dingin, dan berkhasiat untuk menghilangkan sumbatan vital energi, obat batuk, peluruh dahak (mukolitik), peluruh kencing (diuretik), peluruh keringat, dan membantu proses pencernaan.

BAGIAN YANG DIGUNAKAN
Bagian utama yang digunakan adalah buah. Selain itu daun, bunga, dan akar juga bisa digunakan sebagai obat.

GANDARUSA
Justicia gendarussa Burm.f.


SINONIM
J. dahona Buch. – Ham., J.nigricans Lour., J. salicina Vahl., Gendarussa vulgaris Nees.



KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Euphorbiales
Suku : Euphorbiaceae 
Marga : Jatropha
Jenis : Justicia gendarussa Burm.f
Nama umum : Gandarusa

NAMA DAERAH
Besi-besi (Aceh), gandarusa (Melayu). handarusa (Sunda), gandarusa, tetean, trus (Jawa), gandharusa (Madura). Gandarisa (Bima). Maluku : puli (Ternate).

KHASIAT
Daun bersifat rasa pedas, sedikit asam, dan netral. Berkhasiat melancarkan peredaran darah, membuyarkan sumbatan, anti-rematik, peluruh keringat (diaforetik), peluruh kencing (diuretik), dan pencahar. Sedangkan kulit kayunya bersifat sebagai perangsang muntah. Bagian yang dugunakan adalah daun dan akar. Penggunaan segar atau yang telah dikeringkan. 

INDIKASI
Daun berkhasiat untuk mengatasi :
Bengkak akibat terpukul atau terbentur (memar),
Keseleo, tulang patah (fraktur),
Rematik sendi, nyeri pinggang,
Haid tidak teratur, tidak datang haid (amenore)
Demam yang hialng timbul, dan
Mual sewaktu batuk dan sesak.
Akar berkhasiat untuk mengatasi
Rematik, keram otot, demam,
Kencing tersasa nyeri (disuria),
Sakit kuning (jaundice), diare, serta,
Anak kecil yang kurus sekali (marasmus).


CARA PEMAKAIAN
Daun segar 30 – 60 g direbus atau ditumbuk dan diperas, air yang terkumpul lalu diminum. Bila memakai daun kering, rebus sebanyak 15 – 30 g akar sebanyak 3 – 10 g direbus, minum. Untuk pemakain luar, herba segar dipipis lalu tempelkan ke tempat yang sakit seperti tulang patah, bengkak terklir, pembengkakan kelenjar dan bisul. Air perasan daun segar digunakan sebagai obat tetes pada telinga yang sakit. Sedangkan air rebusan herba ini bisa digunakan untuk mencuci koreng dan borok.


SAMBILATA
Andrographis paniculata Nees




KLASIFIKASI  
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Acanthaceae
Marga : Andrographis
Jenis : Andrographis paniculata Nees.
Nama umum : Sambiloto.
NAMA DAERAH
Pepaitan (Maluku), ki oray (Sunda), ki peurat, takilo, bidara, sadilata, takila.

BAGIAN YANG DIGUNAKAN
Ranting tumbuhan dengan daun, bunga dan buah.

MANFAAT DAN KHASIAT
Obat tradisional untuk anti radang, borok, terkena racun, jamur, singkong, udang, tifus, demam, gatal-gatal, digigit serangga, ulat berbisa, kencing manis, disentri, radang telinga, eksema, radang usus buntu, masuk angin, trahom, difteri, ayan, kencing nanah dan anti malaria. Penurun tekenan darah, peluntur sesudah melahirkan, keputihan, pegal linu, penambah nafsu makan.

SEREH
Cymboppgon nardus Rendle




SIMPLISIA :
Batang, daun akar

KHASIAT :
Penghangat tubuh, patah tulang, rematik.


F.PEMBAHASAN
1.Simplisia Akar
a.Kencur
URAIAN TANAMAN
Kencur merupakan terna yang tumbuh merumpun. Sosok tanamannya tergolong kecil. Bila diperhatikan, tanaman ini seolah tak memiliki batang sama sekali, padahal kencur memiliki batang semu yang amat pendek. Kencur tidak tumbuh meninggi, melainkan menutup permukaan tanah.
Daun kencur berbentuk bulat melebar dengan ujung mengecil, tumbuh melebar seakan menjalar di tanah, warna hijau gelap namun berkesan segar, permukaannya tebal dan mulus. Tulang daunnya jelas sekali. Daunnya cukup banyak, tumbuh dari batang dengan tangkai yang amat pendek dan berwarna keputih-putihan.
Bunga kencur berwarna ungu keputih-putihan,, kecil, berbau harum, muncul di sela – sela daun, dan mudah gugur.
Rimpang kencur cokelat gelap dan berkesan mengkilap. Apabila dibelah, tampak daging rimpang berwarna putih cerah. Rimpang kencur tumbuh bergerombol dan bercabang-cabang. Kadang-adang umbinya bisa muncul ke permukaan tanah. Dalam satu tanaman, kita bisa mendapatkan rimpang dalam jumlah yang cukup banyak.



b.Jahe emprit
URAIAN TUMBUHAN
Habitus : Herba, semusim, tegak, tinggi 40 – 50 cm.
Batang : Semu, beralur, membentuk rimpang, hijau.
Daun : Tunggal, bentuk lanset, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, hijau tua.
Bunga : Majemuk, bentuk bulir, sempit, ujung runcing, panjang 3 – 5 – 5 cm, lebar 1,5 – 2 cm, tangkai panjang  2 cm, hijau merah, kelopak bentuk tabung, bergigi tiga, mahkota bentuk corong, panjang 2 – 2,5 cm, ungu.
Buah : Kotak, bulat panjang, coklat.
Biji : Bulat, hitam. 
Akar : Serabut, putih kotor.

KANDUNGAN KIMIA
Rimpang Zingiber officinale mengandung flavonoida dan politenol, disamping minyak atsiri.

c.Kunci pepet
URAIAN TUMBUHAN
Habitus : Semak, semusim, tinggi 15 – 30 cm. 
Batang : Semu, hijau, membentuk rimpang, putih kehijauan, 
Daun : Tunggal, bulat telur, tepi rata, licin, panjang 8-14 cm, lebar 5-7 cm, hijau.
Bunga : Majemuk, bentuk malai, kelopak tunggal, masih muda putih, setelah tua putih kehijauan, benang sari putih, panjang ± 3 cm, putik putih, panjang ± 1,5 cm, mahkota bulat memanjang, kuning.
Buah : Buni, bulat telur, bagian dalam putih, hijau muda.
Akar : Serabut, putih kotor.
KANDUNGAN KIMIA
Rimpang Kaempferia angustifolia mengandungalkaloida, saponin dan flavonoida dan polifenol, di samping minyak atsiri.

d.Kunyit
URAIAN TUMBUHAN
Tumbuhan yang termasuk jenis temu yaitu tumbuhan berumbi, dapat tumbuh dengan subur di tanah yang gembur. Apabila tanahnya disiangi dengan baik akan dapat menghasilkan umbi yang banyak. Kalau umbinya diparut atau ditumbuk, kemudian diperas akan menghasilkan air sari yang berwarna kuning. Umbi bercabang-cabang dan umbi induk di sebut empu. Bunga majemuk berwarna kuning muda sampai putih. Daun lebar berbentuk lonjong. Tumbuhan berbatang basah, tinggi sampai 1 meter atau lebih. Pengembangbiakan dengan umbinya.

KANDUNGAN KIMIA
Rimpang tumbuhan ini mengandung minyak atsiri, (felandren, turmeron, zingiberen) kurkumin, damar, gom, lemak, protein, kalsium, fosfor, besi.

2.Simplisia Daun
a.Tapak dara 
URAIAN TUMBUHAN
Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah, umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tapak dara bisa tumbuh ditempat terbuka atau terlindung pada bermacam-macam iklim, ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl.
Terna atau semak, menahun, tumbuh tegak, tinggi mencapai 120 cm, banyak bercabang. Batang bulat, bagian pangkal berkayu, berambut halus, warnanya merah tengguli. Daun tunggal, agak tebal, bertangkai pendek, berhadapan bersilang. Helai daun elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip, kedua permukaan daun mengilap, dan berambut halus. Perbungaan majemuk, keluar dari ujung tangkai dan ketiak daun dengan 5 helai mahkota bunga berbentuk terompet, warnanya ada yang putih, merah muda atau putih dengan bercak merah ditengahnya. Buahnya buah bumbung berbulu, menggantung, berisi banyak biji berwarna hitam. Perbanyakan dengan biji, setek batang, atau akar.

KANDUNGAN KIMIA
Herba mengandung lebih dari 70 macam alkaloid, termasuk 28 bindole alkaloid. Komponen anti-kanker, yaitu alkaloid seperti vincaleukoblastine (vinblastin=VLB), leurocristine(vinkristin = VCR), leurosin (VLR), vinkadiolin, leurosidin, dan kantaratin. Alkaloid yang berkhasiat hipoglikemik (menurunkan kadar gula drah) antara lain leurosin, katarantin, lochnerin, tetrahidroalstonin, vindolin, dan vindolinin. Sedangkan akar tapak dara mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin.
CATATAN
Di luar negeri herba tapak dara sudah dibuat obat suntik, yaitu vincristine dan vinblastine injeksi.
Perempuan hamil dilarang menggunakan tumbuhan obat ini.

b.Iler
URAIAN TUMBUHAN
Iler dapat ditemukan tumbuh liar di tempat-tempat lembab dan terbuka pada ketinggian 1 – 1.300 m dpl. Herba yang berasal dari Asia Tenggara ini merupakan tumbuhan setahun, tumbuh tegak atau berbaring pada pangkalnya yang menyentuh tanah akan mengeluarkan akar, tinggi 0,5 – 1,5 m, jika seluruh bagian diremas akan mengeluarkan bau harum. Batang segi empat dengan alur yang agak dalam pada masing sisinya, berambut, percabangan banyak, berwarna ungu kemerahan. Daun tunggal, panjang tangkai 3 – 4 cm. helaian daun berbentuk bulat telur, pangkal membulat atau melekuk menyerupai bentuk jantung, ujung meruncing, tepi bergerigi, tulang daun menyirip jelas (berupa alur), permukaan daun agak mengkilap, berambut halus, berwarna ungu kecoklatansampai ungu kehitaman, dengan panjang 1-11 cm lebar 3,5-6 cm. bunga dalam anak payung yang berhadapan, tersusun dalam tandan lepas di ujung atau malai yang bercabang lebar, mahkota berbibir dua dengan bibir bawah yang menggantung, berwarna putih. Buah keras, berbentuk seperti telur, dan licin.
Bentuk, corak serta warna tanaman beraneka ragam, namun yang berkhasiat sebagai tanaman obat adalah yang memiliki daun berwarna merah kecoklatan
 
KANDUNGAN KIMIA
Batang dan daun mengandung minyak atsisri, fenol, tanin, lemak, phytosterol, kalsium oksalat, dan peptic substances.

CATATAN
Ibu hamil dilarang minum rebusan daun iler karena bisa menyebabkan keguguran.

c.Kumis Kucing
URAIAN TUMBUHAN
Kumis kucing tumbuh liar di sepanjang anak sungai dan selokan, atau ditanam di pekarangan sebagai tumbuhan obat dan dapat ditemukan di daerah dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl.
Terna, tahunan, tumbuhan tegak, tinggi 50 – 150 cm. Batang berkayu, segi empat agak beralur, beruas, bercabang, berambut pendek atau gundul, berakar kuat. Daun tunggal, bulat telur, elips atau memanjang, berambut halus, tepi bergerigi, ujung dan pangkal runcing, tipis, panjang 2 – 10 cm, lebar 1 – 5 cm, warnanya hijau. Bunga majemuk dalam tandan yang keluar di ujung percabangan, berwarna ungu pucat atau putih, benag sari lebih panjang dari tabung bunga. Buah berupa buah kotak, bulat telur, masih muda berwarna hijau, setelah tua berwarna cokelat. Biji kecil, masih muda berwarna hijau, setelah tua berwarna hitam. Kumis kucing dapat diperbanyak dengan biji atau setek batang.

KANDUNGAN KIMIA
Orthosiphonin glikosida, zat samak, minyak asiri, minyak lemak, saponin, sapofonin, garam kalium, mioinositol, dan sinensetin. Kalium berkhasiat diuretik dan pelarut batu saluran kencing, sinensetin berkhasiat antibakteri.

d.Daun Wungu
URAIAN TUMBUHAN
Daun wungu sering ditemukan tumbuh liar di pedesaan, atau ditanam sebagai tanaman hias dan tanaman pagar. Asalnya dari Irian dan Polynesia, dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.250 m dpl. Tumbuh baik pada tempat terbuka yang terkena sinar matahari, dengan iklim kering atau lembab. Perdu atau pohon kecil, tinggi 1,5 – 3 m, batang berkayu. Kulit dan daun berlendir dan baunya kurang enak. Cabang bersudut tumpul, berbentuk galah dan beruras rapat. Daun tunggal, bertangkai pendek, letaknya berhadapan bersilang, bulat telur sampai lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi bergelombang, pertulangan menyirip, panjang 8 – 20 cm, lebar 3 – 13 cm, permukaan atas warnanya ungu mengilap. Perbungaan majemuk, keluar diujung batang, tersusun dalam rangkaian berupa tandan yang panjangnya 3 – 12 cm, warnanya merah keunguan. Buahnya buah kotak, bentuknya lonjong, warnanya ungu kecoklatan. Biji kadang-kadang 2, bentuknya bulat, warnanya putih.
Ada 3 varietas, yaitu berdaun ungu, berdaun hijau dan belang-belang putih. Yang digunakan sebagai obat adlh varietas berdaun ungu yang dinamakan Graptophyllum pictum (L.) Griff. var luridosanguineum Sims. Tumbuhan berbunga sepanjang tahun, namun di Jawa jarang sekali menghasilkan buah. Perbanyakan dengan stek batang.

KANDUNGAN KIMIA
Daun tumbuhan ini mengandung alkaloid yang tidak beracun glikosida, steroid, saponin, tanin, klorofil, dan lendir. Batang daun wungu mengandung kalsium oksalat, asam formik, dan lemak.

e.Meniran
URAIAN TUMBUHAN
Tumbuhan berbatang basah dengan ketinggian sampai 45 cm. Daun bersirip genap, bunga berseling kecil, melekat pada ketiak daun, menghadap ke bawah sehingga agak terlindung oleh daunnya. Buah kotak, bentuknya bulat seperti menir atau lemukut. 
KANDUNGAN KIMIA
Tumbuhan ini mengandung filantin, kalium, damar dan zat samak.

f.Murbei
URAIAN TUMBUHAN
Murbei berasal dari Cina, tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m dpl. Dan memerlukan cukup sinar matahari. Tumbuhan yang sudah dibudidayakan ini menyukai daerah-daerah yang cukup basah seperti lereng gunung, tetapi pada tanah yang berdrainase baik. Kadang-kadang ditemukan tumbuh liar.
Pohon, tinggi sekitar 9 m, percabangan banyak, cabang muda berambut halus. Daun tunggal, letak berseling, bertangkai yang panjangnya 1 – 4 cm. Helai daun bulat telur sampai berbentuk jantung, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip agak menonjol, permukaan atas dan bawah kasar, panjang 2,5 – 20 cm, lebar 1,5 – 12 cm, warnanya hijau. Bunga majemuk berbentuk tandan, keluar dari ketiak daun, mahkota berbentuk taju, warnanya putih. Dalam satu pohon terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga sempurna yang terpisah. Murbei berbunga sepanjang tahun. Buahnya banyak berupa buah buni, berair dan rasanya enak. Buah madu warnanya hijau, setelah masak menjadi hitam, biji kecil, warna hitam.
Tumbuhan ini dibudidayakan karena daunnya digunakan untuk makanan ulat sutera. Daun muda enak di sayur berkhasiat sebagai pembersih darah bagi orang yang sering bisulan. 

KANDUNGAN KIMIA
Daun murbei mengandung ecdysterone, inokosterone, lupeol, β-sitosterol, rutin, moracetin, isoquersetin, scopoletin, scopolin, α-, β-hexenal, cis-β-hexenol, cis-γ-hexenol, benzaldehide, eugenol, linalool, benzyl alkohol,butylamine, acetone, butylamine, acetone, trigonelline, choline, adenin, asam amino, copper, zinc, vitamin (A,B1,C, karoten), asam klorogenik, asam fumarat, asam folat, asam formyltetrahydrofolik, dan mioinositol. Juga mengandung phytoestrogens. Bagian ranting daun murbei mengandung tanin dan vitamin A. buahnya mengandung cyanidin, isoquercetin, sakarida, asam linoleat, asam starat, asam oleat, dan vitamin (karoten, B1B2, dan C). Kulit batang mengandung (1) triterpenoids : α-, β-amyrin, sitosterol, sitosterol-α-glukoside. (2) Flavonoids : morusin, cyclomorusin, kuwanone A,B,C, oxydihydromorusin. (3) Coumarins :umbelliferone, dan scopoletin. Kulit akar mengandung drivet flavone mulberrin, mulberrochromene, cyclomulberrin, cyclomulberrochromene, morusin, dan mulberrofuran A. juga mengandung betulinic acid, scopoletin, α-amyrin, β-amyrin, undecaprenol, dan dodecaprenol.

g.Pule Pundak
URAIAN TUMBUHAN
Habitus : Semak, tahunan, tinggi 25 – 80 cm.
Batang : Berkayu, bulat, bercabang, permukaan kasar, putih kotor.
Daun : Tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, duduk berseling, panjang 3 – 20 cm, lebar 2 – 9 cm, pertulangan menyirip, hijau muda, hijau.
Bunga : Majemuk, bentuk payung, di ujung cabang, kelopak bertajuk lima, hijau, mahkota merah, merah.
Buah : Batu, bulat telur, masih muda hijau setelah tua hitam.
Biji : Bulat, pipih, putih.
Akar : Tunggang, coklat.

KANDUNGAN KIMIA
Akar dan daun Rauwolfia serpentina mengandung alkaloida dan saponin, di samping itu akarnya juga mengandung flavonoida dan polifenol.

h.Tembelekan
URAIAN TUMBUHAN
Tembelekan kadang tumbuh liar tu ditanam sebagai tanaman hias dan tanaman pagar. Tumbuhan asal Amerika tropis ini bisa ditemukan dari dataran rendah sampai 1.700 m dpl., pada tempat-tempat terbuka yang terkena sinar matahari tau agak ternaung.
Perdu tegak atau agak memanjat tinggi 0,5 – 4 m, berbau. Batang berkayu, bercabang banyak, ranting bentuk segi empat, berduri, berambut. Daun tunggal, berhadapan, bundar telur, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip, kedua permukaan berambut, perabaan kasar, panjang 5 – 8 cm, lebar 3,5 – 5 cm, warnanya hijau tua. Perbungan majemuk bentuk bulir, mahkota bagian dalam berambut, warnanya putih, merah muda, jungga, kuning, dan sebagainya. Buah buni, tangkai berambut, masih muda hijau, bila masak hitam mengilap.

3.Simplisia Buah
a.Mengkudu
URAIAN TUMBUHAN
Habitus : Pohon, tinggi 4 – 8 m.
Batang : Berkayu, bulat, kulit kasar, percabangan monopodial, penampang cabang muda segi empat, coklat kekuningan.
Daun : Tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 10 – 40 cm, lebar 5 – 17 cm, pertulangan menyirip, tangkai pendek, dan penumpu bulat telur, panjang 1 cm, hijau.
Bunga : Majemuk, bentuk bongkol, bertangkai, diketiak daun, benang sari lima, melekat pada tabung mahkota, tangkai sari berambut, tangkai bakal buah panjang 3 – 5 cm, hijau kekuningan, mahkota bentuk terompet, leher berambut, panjang + 1 cm, putih.
Buah : Bongkol, permukaan tidak teratur, berdaging, panjang 5 – 10 cm, hijau kekuningan.
Biji : Keras, segitiga, coklat kemerahan.
Akar : Tunggang, coklat muda.

KANDUNGAN KIMIA
Daun dan buah Morinda citrifolia mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan antrakinon, di samping itu daunnya juga mengandung politenol.

KANDUNGAN KIMIA
Daun mengandung lantadene A, lntadeneB, lantanolic acid, lantic acid, humulene (mengandung minyak atsiri), β-caryophyllene, γ-terpidene, α-pinene, dan p-cymene.

b.Jeruk purut
URAIAN TUMBUHAN
Jeruk purut banyak ditanam orang di pekarangan atau di kebun-kebun, daunnya merupakan daun majemuk menyirip beranak daun satu tangkai daun sebagian melebar menyerupai anak daun. Helaian anak daun berbentuk bulat tel;ur sampai lonjong, pangkal membundar atau tumpul, ujung tumpul sampai meruncing, tepi beringgit, panjang 8 – 15 cm, lebar 2 – 6 permukaan atas warnanya hijau tua agak mengkilap, permukaan bawah hijau muda atau hijau kekuningan, buram, jika diremas baunya harum. Bunganya berbentuk bintang, putih kemerahan atau putih kekuningan. Bentuk buahnya bulat telur, kulitnya hijau berkerut, berbenjol-benjol, rasanya asam agak pahit.
Jeruk purut sering digunakan dalam masakan, pembuatan kue, atau dibuat manisan. Jeruk purut dapat diperbanyak dengan cangkok dan biji.

c.Jeruk Lemonte
URAIAN TUMBUHAN
Biasanya, jeruk nipis ditanam di pekarangan atau di kebun, dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur, asalkan mudah meneruskan air dan mendapat sinar matahari penuh. Konon, jeruk nipis berasal dari kepulauan Hindi Timur. Di Indonesia tanaan ini dapat ditemukan pada ketinggian 1 – 1.000 m dpl.
Pohon kecil bercabang lebat, tetapi tidak beraturan, tinggi 1,5 – 3,5 m, batang bulat, berduri pendek, kaku dan tajam. Daun tunggal, tangkai lonjong, pangkal bulat, ujung tumpul, tepi beringgit, permukaan atas berwarna hijau tua mengilap, permukaan daun bagian bawah berwarna hijau muda, panjang 2,5 – 9 cm, lebar 2 – 5 cm. Bunga majemuk, tersusun dalam malai yang keluar dari ketiak daun, bunga berbentuk bintang, diameter 1,5 – 2,5 cm, berwarna putih, baunya harum. Buahnya buah buni, benjolan, berwarna hijau yang akan menjadi kuning jika matang, rasanya asam. Bijinya banyak, kecil-kecil, licin, bulat telur sungsang.

KANDUNGAN KIMIA
Jeruk monte mengandung minyak terbang limonene dan linalool. Selain itu, juga mengandung flavonoid, seperti poncirin, hesperedine, rhoifolin, dan naringin. Buah masak mengandung synephrine dan N-methyltyramine. Disamping itu, juga mengandung asam sitrat, kalsium, fosfor, besi, dan vitamin (A, B1 dan C).

4.Simplisia Batang
a.Gandarusa
URAIAN TUMBUHAN
Gandarusa tumbuh liar di hutan, tanggul sungai, atau ditanam sebagai tanaman obat atau tanaman pagar. Di Jawa Tumbuh pada ketinggian 1 – 500 m dpl.
Perdu, tumbuh tegak, tinggi 0,8 – 2 m. batang berkayu, bercabang, beruas, warnanya cokelat kehitaman, mengkilap. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang. Helai daun berbentuk langset, tepi rata, ujung meruncing, pangkal berbentuk baji, pertulangan menyirip, panjang 5 – 20 cm, lebar 1 – 3,5 cm, warnanya hijau tua. Bunga majemuk tersusun dalam rangkaian berupa malai, keluar dari ketiak daun atau ujung percabangan, mahkota bentuk tabung, berbibir dua, putih. Buah bentuknya bulat panjang, berbiji empat, licin.
Gandarusa berbatang cokelat kehitaman lebih populer, walaupun ada juga yang berbatang hijau. Daunnya dapat digunakan untuk membunuh serangga. Perbanyakan dengan setek batang.

KANDUNGAN KIMIA
Justisin, minyak asiri, kalium, kalsium oksalat, tanin, dan alkaloid yang agak beracun.
CATATAN
Perempuan hamil dilarang menggunakan tumbuhan obat ini.
Di India dan Asia Tenggara, Gandarusa digunakan sebagai obat pereda demam, peranhgsang muntah, rematik, sakit kepala, kelumpuhan otot wajah, ekzema, sakit mata, dan sakit telinga.

b.Sambilata
URAIAN TUMBUHAN
Terna tumbuh tegak tinggi 40 cm sampai 90 cm, percabangan banyak dengan letak yang berlawanan, cabang berbentuk segi empat dan tidak berambut, bentuk daun lanset, ujung daun dan pangkal daun tajam atau agak tajam, tepi daun rata, panjang tangkai daun 5 mm sampai 25 mm, daun bagian atas bentuknya seperti daun pelindung. Perbungaan tegak bercabang-cabang, gagang bunga 3 mm sampai 7 mm, panjang kelopak bunga 3 mm sampai 4 mm. Bunga berbibir berbentuk tabung, panjang 6 mm, bibir bunga bagian atas berwarna putih dengan wara kuning di bagian atasnya, ukuran 7 mm sampai 8 mm, bibir bunga bawah lebar berbentuk biji, berwarna ungu dan panjang 6 mm. Tangkai sari sempit, dan melebar pada bagian pangkal, panjang 6 mm. Bentuk buah jorong dengan ujung tajam, panjang lebih kurang 1 cm, bila tua akan pecah terbagi 4 keping.
Tumbuhan belum dibudidayakan. Tumbuhan dapat diperbanyak dengan biji.

TEMPAT TUMBUH
Tumbuh tersebar di India, semenanjung malaya dan hampir di seluruh Indonesia pada tempat terbuka, di kebun, di tepi sungai, pada tanah yang gembur, seringkali tumbuh berkelompok. Tumbuh pada ketinggian tempat 1 m sampai 700 m di atas permukaan laut.

KANDUNGAN KIMIA
Asam kersik damar, lakton, flavonoida, glukosida, diterpen, deoksiandrodrafolida 19 glukosida, homoandrografolida, deoksiandrografolida, andrografolida, neoandrografolida, andrografin, asigenin 7-4 dimetil eter panikulin, kamelgin, minyak atsiri.
CATATAN
Anak BALITA jangan diberi ramuan ini.

G.KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa tanaman obat yang berkhasiat untuk pengobatan berdasarkan simplisiany dapat dibedakan :
1.Simplisia Akar
Contoh : Kencur, jahe emprit, kunci pepet, kunyit, dan lain-lain.
2.Simplisia Daun
Contoh : tapak dara, iler, kumis kucing, daun wungu, meniran, murbei, pule pundak, tembelekan.
3.Simplisia Buah
Contoh : mengkudu, jeruk purut, jeruk lemonte.
4.Simplisia Batang
Contoh : gandarusa dan lain-lain.





DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2005. Tanaman Obat. Agro Merapi Farma ; Yogyakarta.

Suwondo. 2005. Diktat Tanaman Obat. STPP ; Yogyakarta.

Thomas, A.N.S. 1992. Tanaman Obat Tradisional. Kanisius ; Yogyakarta.

Tim Penulis Martha Tilaar Innovation Center. 2002. Budidaya Secara Organik Tanaman Obat Rimpang. Penebar Swadaya ; Jakarta.



































BUDIDAYA TANAMAN JAHE 
(Zingiber officinale)

I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Jahe (Zingiber officinale Rosc.) yang termasuk famili Zingiberaceae sekarang ini sudah memiliki tempat di dalam pasar internasional, karena jahe semakin banyak memiliki kegunaan. Akan tetapi, petani dan pengusaha Indonesia belum banyak yang tergetar untuk mau mengusahakannya dengan serius. Walaupun demikian, dengan adanya campur tangan pemerintah dan usaha keras para wiraswastawan, produksi jahe sudah mulai beranjak dan Indonesia bisa berbangga karena disebut sebagai salah satu negara pengekspor jahe.
Di Indonesia, jahe telah diakrabi oleh sebagian besar masyarakatnya. Tidak heran jika masing-masing daerah memiliki nama yang berbeda untuk menyebut nama tanaman berkhasiat ini. Tanaman ini dapat tumbuh di daerah terbuka sampai agak ternaungi. Tanah yang disukai berbahan organik tinggi, berjenis latosol atau andosol dan berdrainase baik. Tanaman ini dapat tumbuh sampai pada ketinggian 900 m dpl, tetapi akan lebih baik tumbuhnya pada ketinggian 200-600 m dpl. Sedangkan curah hujan yang dibutuhkan antara 2500-4000 mm/tahun.
Budidaya jahe biasa dilakukan di lading secara monokultur atau tumpangsari. Perbanyakan yang biasa dilakukan adalah cara vegetatif dengan perbanyakan rimpang. Cara lain seperti dengan rumpun atau kultur jaringan tidak umum ditemui. Oleh karenanya, rimpang jahe merupakan bagian penting tanaman, baik secara biologis maupun ekonomis.
Secara ekonomis, rimpang jahe dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dalam bentuk jahe segar maupun jahe olahan. Jahe segar sering digunakan untuk rempah-rempah dan berbagai keperluan lain seperti obat tradisional. Sementara jahe olahan dapat berupa jahe kering, jahe asin, jahe dalam sirup, jahe kristal, bubuk jahe, minyak atsiri dan oleoresin. Masing-masing bentuk olahan mempunyai manfaat yang berbeda. Namun prospek bisnis kesemuanya sama bagusnya. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan analisis usaha bahwa membudidayakan dan mengusahakan pengolahan jahe bisa mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Beberapa tahun terakhir ini, sebagian wilayah Indonesia secara serius telah berkiprah pada segala bentuk usaha yang menyangkut komoditi jahe. Produknya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. Hasil jahe segar yang dipanen muda ataupun panen tua bisa langsung ekspor atau diolah dulu untuk meningkatkan nilai tambah.
Kebutuhan dalam negeri pun ternyata tidak sedikit. Kebutuhan ini akan terus meningkat terus seiring pertambahan penduduk. Sementara di pihak lain potensi wilayah di Indonesia untuk areal jahe masih terbentang luas.

B.Tujuan
1.Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman jahe.
2.Untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa dalam hal budidaya tanaman jahe.













II.TINJAUAN PUSTAKA

A.Deskripsi Tanaman Jahe
1.Botani Tanaman
Berdasarkan taksonomi tanaman, jahe (Zingiber officinale) termasuk dalam divisi Pteridophyta, subdivisi Angiospermae, klas Monocotyledoneae, ordo Scitamineae dan famili Zingiberaceae, serta genus Zingiber.
Tanaman jahe terdiri atas bagian akar, batang, daun dan bunga. Berikut ini uraian dari bagian tanaman :
Akar
Akar merupakan bagian terpenting dari tanaman jahe. Pada bagian ini tumbuh tunas-tunas baru yang kelak akan menjadi tanaman. Rimpang jahe memiliki aroma khas, bila dipotong berwarna putih, kuning, atau jingga. Sementara bagian luarnya kuning kotor, atau bila telah tua menjadi agak cokelat keabuan. Akan tetapi bagian dalam rimpang jahe biasanya memiliki dua warna yaitu bagian tengah (hati) berwarna ketuaan dan bagian tepi berwarna agak muda.
Batang
Batang tanaman merupakan batang semu yang tumbuh tegak lurus. Batang terdiri dari seludang-seludang daun tanaman dan pelepah-pelepah daun yang menutupi batang.
Daun
Daun jahe berbentuk lonjong lancip, bentuknya seperti daun rumput besar. Letak daun sebelah menyebelah berselingan dan tulang daun sejajar. Daun jahe berwarna hijau dan kurang begitu mengkilap.
Bunga
Bunga jahe berbentuk bulir, tidak berbulu, memiliki panjang kurang lebih 5-7 cm bergaris tengah 2-2,5 cm. bunga terletak pada ketiak daun.

2.Jenis Jahe
Jenis jahe yang umum dikenal di Indonesia adalah jenis jahe emprit, jahe merah, jahe putih dan jahe gajah.

B.Budidaya Tanaman jahe
Adapun teknik pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
a.Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah untuk Jahe dilakukan sebanyak 1-2 kali. Pertama, membersihkan lahan dari gulma, semak dan lain sebagainya. Kemudian tanah dicangkul/dibajak sedalam 30 cm, dilanjutkan dengan membiarkan tanah selama 2-4 minggu. 
Setelah dibiarkan selama 2-4 minggu, tanah kemudian diolah hingga gembur bersamaan dengan pemberian pupuk organik dengan dosis 10 ton/ha dicampur merata dengan tanah, dan selanjutnya dibuat bedengan dengan lebar 60-70 cm, tinggi 25-30 cm, dengan jarak antar bedengan 30-40 cm.
b.Penyiapan Bibit
Bibit berasal dari tanaman induk yang sudah tua (9-10 bulan), serta bebas dari hama dan penyakit. Cara pembibitan adalah sebagai berikut :
Mengambil bibit dari rumpun secara hati-hati agar rimpang yang diperoleh tidak rusak/lecet.
Membersihkan rimpang.
Rimpang yang sudah bersih kemudian dijemur hingga kulitnya mengkilap dan keras, tetapi jangan sampai terlalu kering.
Kecambahkan rimpang tersebut di tempat yang lembab dan biasanya diberi alas dari jerami selama 2-4 minggu, sampai tunasnya keluar.
Setelah keluar tunas rimpang dipotong-potong sesuai ukuran. Biasanya bobot untuk jahe putih berkisar 20-40 gram, sedangkan untuk jahe gajah berkisar 25-60 gram.


c.Penanaman
Jarak tanam yang dianjurkan adalah 25-30 cm dalam barisan dan 45-60 antar barisan. Adapun cara penanaman adalah sebagai berikut:
Membuat lubang tanam sesuai dengan jarak yang ditentukan sedalam 10-15 cm.
Tanam rimpang jahe dengan posisi rebah, tiap lubang diisi satu potong rimpang, kemudian tutup dengan tanah.
Berikan pupuk dasar dengan membuat alur 10 cm dari lubang tanam. Pupuk yang digunakan adalah TSP/SP 36 dengan dosis 200 kg/ha. Kemudian alur tersebut ditutup dengan tanah.
d.Pemberian Mulsa
Setelah diadakan penanaman kemudian lahan ditutup dengan menggunakan mulsa. Mulsa yang bisa digunakan berupa jerami kering, alang-alang, cabutan gulma, daun pisang dan lain sebagainya. Tetapi yang biasa digunakan petani adalah jerami kering.
Mulsa yang diperlukan untuk lahan seluas 1 ha, sekitar 10-12 ton. Pemberian berikutnya pada bulan kedua dan ketiga setelah tanam sekitar 5 ton/ha.
e.Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman jahe meliputi:
Pemupukan
Pemupukan susulan dapat diberikan pada saat tanaman berumur 40-60 hari dan 3 bulan setelah tanam. Pupuk yang diberikan Urea 130-200 kg/ha, ZK atau KCL 60-100 kg/ha.
Pembumbunan
Pembumbunan dilaksanakan bersama-sama dengan penyiangan, tanah-tanah yang berada di sepanjang barisan tanaman ditimbunkan ke pangkal rumpun jahe. Penimbunan tersebut akan membentuk guludan serta saluran kecil sehingga dapat berfungsi sebagai saluran drainase.


Penyiangan
Penyiangan merupakan salah satu pemeliharaan yang berfungsi untuk mengendalikan gulma. Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur 2-4 minggu setelah tanam dan 6-7 bulan setelah tanam.
Pengendalian Hama/Penyakit
Hama yang sering menyerang tanaman jahe adalah:
Kepik (Epilachna spp)
Ulat
Penyakit yang sering menyerang tanaman jahe adalah :
Penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum)
Penyakit busuk rimpang (Fusarium oxysporium sp atau Rhizoctonia sp)
Penyakit bercak daun (Phyllosticta zingiberi)
Pemanenan
Panen jahe ada dua macam, yaitu :
Panen Muda
Jahe yang dipanen muda, berumur sekitar 3-4 bulan. Biasanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga, jahe segar atau jahe awet.
Panen Tua
Jahe yang dipanen tua, pada umumnya telah berumur 8-12 bulan, dengan ciri-ciri daun dan batang layu atau matinya batang semu, daun telah berubah menjadi berwarna kuning.
Hasil panen jahe tergantung pada jenis, lingkungan dan perawatannya. Hanya saja, secara umum hasil panen jahe emprit, jahe merah, jahe putih kecil berkisar 8-15 ton/ha. Sementara jahe gajah berkisar 15-30 ton/ha.




III. PELAKSANAAN

A.Tempat dan Waktu
Praktek budidaya tanaman Jahe ini dilaksanakan pada awal bulan Maret-Juni 2005, bertempat di Lahan Praktek Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurusan Penyuluhan Pertanian di Yogyakarta.

B.Hasil Pengamatan
Berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan dan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa semua rimpang tanaman jahe yang ditanam pada lahan tersebut tidak ada satupun yang tumbuh, sehingga dapat dikatakan bahwa praktikum yang telah dilakukan adalah gagal..



















IV. PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diketahui bahwa tanaman jahe yang telah dibudidayakan tidak ada satu pun yang tumbuh. Hal ini kemungkinan dikarenakan ada beberapa faktor penyebab yang membuat tanaman tidak tumbuh. Bisa karena faktor bibit yang ditanam maupun faktor lingkungan dari lahan setempat.
Faktor bibit biasanya berasal dari kualitas dari dalam bibit itu sendiri. Berdasarkan pengamatan yang ada, bibit yang digunakan sebelum ditanam nampaknya kualitasnya rendah. Hal ini berdasarkan dari bentuk fisik bibit yang terlihat tidak baik, rimpang terlihat sudah terlalu lama disimpan sehingga bibit nampak tidak berisi/keropos. Selain itu rimpangnya juga terlihat sangat kering, banyak yang cacat dan terlihat seperti banyak dimakan bubuk. Sehingga kemungkinan dari faktor inilah tanaman jahe yang dibudidayakan tidak tumbuh.
Faktor yang lain, yaitu faktor lingkungan juga nampaknya menyebabkan tidak tumbuhnya tanaman jahe yang dibudidayakan. Lahan yang digunakan ternyata banyak ditumbuhi rumput, hal ini menyebabkan terjadinya persaingan dengan tanaman jahe yang akan tumbuh. Nampaknya banyak rumput yang tumbuh dikarenakan, saat pengolahan tanah rumput yang sudah terangkat dari tanah tidak dibuang atau dipendam. Sehingga menyebabkan rumput tumbuh dengan cepat.
Kemungkinan faktor-faktor inilah yang menyebabkan rimpang jahe yang kita tanam tidak dapat tumbuh.








V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.Ternyata kualitas bibit merupakan salah satu faktor terpenting dari suatu kegiatan budidaya yang akan dilakukan.
2.Faktor lingkungan juga menjadi salah satu penyebab berhasil dan tidaknya budidaya suatu tanaman.
3.Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan suatu tanaman adalah iklim, tanaman pengganggu (gulma), dan lain sebagainya.

 
B.Saran
1.Sebelum kita menanam suatu tanaman, sebaiknya kita harus mengetahui kualitas dari bibit/benih terlebih dahulu, yaitu dengan mengetahui daya kecambah dan daya tumbuhnya terlebih dahulu.
2.Sebelum kita akan menanam, hendaknya lahan yang akan digunakan harus benar-benar sesuai dengan syarat tumbuh yang diinginkan oleh tanaman yang akan dibudidayakan dan lahan tersebut harus benar-benar bersih dari segala jenis pengganggu tanaman.









DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Herman. 1992. Budidaya Tanaman Jahe. PD. Mahkota, Jakarta. 




























BUDIDAYA KAPULAGA
(Elletria cardomomum)

A.TUJUAN
Mahasiswa dapat mengetahui budidaya tanaman kapulaga secara baik dan benar

B.DASAR TEORI
Tanaman Kapulogo atau Kapulaga yang dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan Elletria Cardamomum merupakan salah satu diantara tanaman rempah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan berprospek cerah mengingat kapulaga sebagai bahan "obat alam" diyakini tidak mempunyai efek samping dibanding dengan menggunakan obat kimiawi.
  Selain itu, dalam pembudidayaannya tanaman ini pun tidak memerlukan lahan tersendiri, dalam arti tumbuh di bawah naungan tanaman lain sebagai tanaman sela atau tanaman tumpangsari. Hasil berupa buah jika sudah kering mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Buah kering kapulaga disamping sebagai bahan jamu, juga diambil minyak atsirinya untuk bahan penyedap atau pengharum makanan, minuman dan sebagai bahan baku atau campuran di dalam industri parfum.
  Sistem pola tanam yang dapat diterapkan dalam pengembangan tanaman kapulaga adalah sistem pola tanam pekarangan dan pola tanam perkebunan. Dengan adanya pola tanam terpadu maka dapat diharapkan penghasilan petani meningkat disamping itu juga dapat meningkatkan produktivitas lahan perkebunan dan konservasi. Beranjak dari kapulaga yang relatif mudah dibudidayakan dan bisa dipanen 4 kali dalam setahun, maka hal tersebut telah banyak menarik minat petani untuk membudidayakan.

Syarat Tumbuh
  Tanah yang cocok untuk ditanami kapulaga adalah tanah lempung yang berwarna coklat, memiliki humus tebal dan berdrainase baik. Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan air, tanah yang memiliki topografi rata sampai miring dapat ditanami tanaman ini. Di lahan yang berlereng curam, rumpun tanaman yang terbentuk akan berfungsi mengurangi atau menghambat aliran air permukaan yang berlebihan sehingga erosi permukaan dapat ditekan.
  Sedangkan untuk iklim, tanaman kapulaga menghendaki kelembaban udara cukup tinggi yaitu 40 - 75%, dengan curah hujan berkisar antara 2.500 - 4000 milimeter per tahun. Suhu harian rata-rata daerah tempat tumbuh tanaman kapulaga adalah berkisar antara 20 - 30 derajat celcius, dengan intensitas cahaya terbaik bagi pertumbuhan tanaman berkisar antara 30 - 70%. Kelebihan lain dari tanaman kapulaga adalah dapat tumbuh baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Sementara itu untuk memperoleh hasil yang terbaik, ketinggian pada 300 - 500 meter dari permukaan air laut merupakan daerah budidaya yang paling tepat. (Warsana SP,2000)

C.ALAT DAN BAHAN
Alat : - Cangkul - Tali Rafia
  - Ajir - Bambu
   
Bahan : Bibit Kapulaga 

D.CARA KERJA
1.Siapkan alat dan bahan
2.Bersihkan lahan yang akan ditanami dan gemburkan tanah dengan cangkul 
3.Buat bedengan dengan ukuran panjang 30 m, lebar 3 m 
4.Siapkan bibit yang akan ditanam
5.Buat lubang tanam dengan jarak tanam 40 cm x 100 cm
6.Lakukan penanaman

E.PELAKSANAAN
1.Penyediaan Bibit
Penyediaan bibit kapulaga umumnya diperbanyak dengan anakan atau tunas baru atau percabangan rizoma yang membentuk tunas. Bibit yang baik adalah tunas yang tingginya lebih kurang 50 cm dengan akar rizoma yang muda dan mata tunasnya banyak, rizoma yang sudah tua pertumbuhannya kurang baik.
2.Pengolahan Tanah
  Pengolahan tanah dilakukan pada bulan September - Oktober dengna membersihkan tanah dari batu, rumput-rumputan/gulma dan sisa tanaman lainnya. Pencangkulan tanah dilakukan sedalam kurang lebih 30 cm. Persiapan lobang tanam dilakukan sebulan sebelum penanaman dengan terlebih dahulu dibuat lobang tanam dengan ukuran panjang 50 cm dan dalamnya 40 cm. Sebaiknya 15 hari setelah pembuatan lobang, tanah dikembalikan lagi ke dalam lobang, sebelumnya tanah dicampur dulu dengan pupuk kandang secukupnya.
3.Penanaman
  Untuk penanaman, sebaiknya dibuatkan penaung. Penaung ditanam sebelum penanaman kapulaga sehingga pada saat tanam, penaung telah berfungsi dengan baik. Jenis penaung diantaranya adalah : Lamtoro, dadap dan sebagainya dengan perbandingan 1 : 2 (1 penaung - 2 kapulaga).
4.Waktu Tanam
  Waktu tanam yang baik yaitu awal hujan, sekitar bulan Oktober - Desember. Caranya: bila tanah olahan atau lobang tanam telah tersedia dan bibit telah disiapkan, kemudian buat lobang kecil, letakkan bibit sedalam 10 - 15 cm. Tanah di sekitarnya dipadatkan atau ditimbun dengan memperhatikan tunas agar tidak sampai terganggu (terluka atau patah). Jarak tanam untuk kapulaga bisa digunakan 1m x 1,5m atau 1m x 2m dan juga bisa 1,5m x 2m.
5.Pemeliharaan
  Dalam pemeliharaan kapulaga, beberapa pekerjaan penting yang harus dilakukan antara lain: penyiangan rumput atau pengendalian gulma, penggemburan diluar rumpun untuk merangsang perumbuhan anakan rimpang sehingga bisa tumbuh lebih baik, pemotongan daun kering untuk tidak menghalangi penyerbukan bunga, pemotongan batang yang sudah agak tua atau menguning untuk memberi kesempatan batang muda tumbuh dengan baik, pengaturan anakan agar tidak tumpang tindih dan untuk merangsang pertumbuhan bunga atau buah juga unuk mengurangi penguapan pada musim kemarau serta untuk mendapatkan anakan atau bibit baru.
  Di masa pemeliharaan ini, yang tidak kalah pentingnya juga pemberian mulsa berupa bahan organik dari jenis tanaman leguminosa. Untuk lebih meningkatkan mutu maka perlu dilakukan pemupukan mengingat tanaman kapulaga termasuk rakus akan unsur hara, sehingga pemupukan sangat diperlukan terutama sekali pupuk organik dan pupuk buatan. Adapun cara dan jumlah pupuk yang diberikan adalah berdasarkan masa pertumbuhan TBM (Tanaman Belum Menghasilkan). Untuk ini pupuk organik diberikan pada saat pengolahan tanah, dan pada saat penggemburan diluar rumpun sebanyak 1 - 1,5 kg pupuk kandang, pemupukan berikutnya setiap 3 bulan sekali.
  Sedangkan untuk pupuk buatan diberikan pada umur 1 bulan sebanyak 1 sendok makan pupuk urea dan diulang pada umur 3 bulan dengan 1 sendok pupuk urea disebar diluar rumpun atau disemprotkan pada daun. Bagi tanaman kapulaga yang sudah menghasilkan, pupuk kandang diberikan sebanyak 10 - 15 kg setiap rumpun dan pemberian selanjutnya disesuaikan dengan kondisi tanaman dan lingkungan.
  Pupuk buatan diberikan 10 - 12,5 gram berupa Urea dan TSP. Pupuk ini diberikan diluar rumpun pada batas perakaran dengan membuat selokan kecil, kemudian ditutup dengan tanah dan disiram seperlunya.
  Kapulaga sebagaimana tumbuhan lain, juga tidak terhindar dari penyakit.Hama yang biasa menyerang kapulaga adalah berupa kutu, ulat pemakan daun, penggerek akar rimpang, penggerek batang, penggerek buah dan kumbang pamakan daun.
  Pemberantasannya bisa dilakukan dengan mempergunakan berbagai insektisida yang dijual di pasaran bebas.Untuk penyakit yang menyerang biasanya penyakit busuk (Mozaik) yang disebabkan oleh virus. Cara pengendalian yang efektif adalah dengan jalan membuang tanaman yang terserang dan menanam tanaman baru yang berasal dari pembibitan asal biji.
6.Pemanenan
  Kapulaga dapat memberikan hasil setelah berumur 2 - 3 tahun. Kapulaga berbuah sepanjang tahun sehingga untuk pemanenan ini tidak menentu. Dalam pemanenan kapulaga dikenal istilah panen besar 4 kali dan panen kecil 4 kali yang berlangsung dalam 1 tahun secara berselang-seling. Tanaman dapat dipergunakan sampai umur 10 - 15 tahun. Hasil panen per hektar bisa mencapai 2 - 3 ton buah kering per tahun dan ini berlaku untuk tanaman yang sudah berumur belasan tahun.
  Adapun syarat-syarat pemanenan kapulaga adalah: Buah harus dipanen sebelum benar-benar matang, bila dipanen terlalu matang atau kering, buah akan pecah dan warnanya juga kurang bagus. Waktu panen yang tepat adalah jika buah sudah berwarna hijau kekuning-kuningan.Cara panen yaitu dengan memotong karangan bunga dibawah dompolan buah.Buah yang sudah dipanen kemudian dijemur sampai kering, sebaiknya jangan terkena sinar matahari langsung atau dikering anginkan. (Warsana SP,2000)

F.KESIMPULAN
Budidaya kapulaga yang ditanam dengan menggunakan penaung sangat baik karena rimpang akan berproduksi dengan optimal



DAFTAR PUSTAKA
Warsana SP,2000 “Budidaya Tanaman Kapulaga”Suara Karya Online