Minggu, 11 Januari 2009

Teknik Penanaman Obat

Oleh: Naroh
TEKNIK PENANAMAN TANAMAN OBAT

Banyaknya spesies tanaman obat ini tentu saja bermacam teknik pembudidayaannya. Bagi tanaman obat obligat dan mempunyai fungsi ganda telah diketahui, meskipun demikian teknik penanaman dapat dilakukan berdasarkan :
1.Sifat tanaman obat terhadap Agroklimat
a.Tanaman yang suka matahari (terbuka)/Light Plant. Contoh jahe-jahean, bawang, bidara upas dan lain-lain.
b.Tanaman yang suka naungan (Shade Plant). Contoh kapulogo, keji beling, kumis kucing dan lain-lain.
2.Sifat tanaman obat terhadap Habitat
a.Parasitis, contoh benalu, teh.
b.Saprofitis, contoh kayu angin.
c.Epipitis 
3.Umur tanaman obat
a.Annual Plant (tanaman semusim)
b.Perennial Plant (tanaman lebih dari 1 tahun = tahunan)
4.Simplisianya
a.Simplisia bunga/buah, contoh jambu biji, cengkeh, dan lain-lain
b.Simplisia daun, contoh tempuyung, teh, katuk dan lain-lain.
c.Simplisia akar/rimpang, contoh jahe, kunyit, dan lain-lain.

Pola tanam yaitu tata penanaman secara teratur pada suatu lahan dengan satu jenis tanaman atau lebih.
1.Monokultur, adalah menanam sejenis tanaman pada lahan. Bila tanaman itu pepohonan (Perenual), seprti kayu manis, kayu putih dan lain-lain monokultur banyak menghasilkan minyak Atsiri. Monokultur tanaman semusim, tentunya perlu ditata sesuai kebutuhan air selama hidupnya, misalnya padi dan jahe.
2.Polikultur dalam lahan yang sama disebut tumpang gilir (Multiple Cropping), tanaman obat keluarga (TOGA) di desa-desa penanamannya secara tumpang sari tajuk bertingkat (Multi Storey Cropping), misalnya dibawah pohon kelapa ditanam kayu manis dan temu-temuan. Pola tumpang gilir biasanya jenis tanaman obat yang suka naungan atau tahan ditanam dibawah bayangan (Shade Plant).

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk penanaman tanaman obat antara lain :
1.Faktor yang menentukan saat tanam di lahan kering adalah ketersediaan air, maka musim tanam harus jatuh pada musim hujan.
2.Penanaman dengan jarak tanam/barisan yang teratur
3.Penggunaan tajar hidup/mati bagi tanaman yang merambat, misalnya lada, saga dan lain-lain dapat meningkatkan produksi.
4.Penggunaan naungan yang dapat diatur untuk tanaman yang memerlukan naungan baik saat muda, remaja maupun dewasa.

Perlunya pengolahan tanah dalam penanaman tanaman obat adalah bertujuan menyiapkan tempat tumbuh yang serasi, sehingga tanaman dapat cepat tumbuh. Dengan pengolahan tanah sifat fisik tanah menjadi gembur.
1.Utamanya bagi tanaman monokultur semusim, pengolahan tanah sangat diperlukan. Bagi penghasil rimpang/umbi kecuali pengolahan tanah, pupuk kandang minimum 3 ton/ha dapat memperbesar rimpang/umbi.
2.Perenual Plant, gali lobang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm dan membalik sub soil dan top soil agar dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.


TEKNIK PEMELIHARAAN TANAMAN OBAT

Tujuan utama pemeliharaan tanaman adalah memberikan kenyamanan terhadap kehidupan tanaman, sehingga tanaman dapat memberikan hasil yang maksimum.
1.Faktor-faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman yaitu kebutuhan air, hara dan intensitas cahaya matahari. Faktor tersebut erat hubungannya dengan kualitas hasil obat yang diharapkan.
2.Gangguan OPT sering menekan produksi dalam hal ini kwantitasnya. Pengendalian dengan pestisida kimia akan membawa resiko residu yang memerlukan teknik dan rekayasa yang tepat.

Beberapa tindakan pemeliharaan yang perlu diperhatikan antara lain :
1.Bibit yang mudah stress saat pemindahan (Transplanting), misalnya tanaman tempuyung (Sonchus arvensis), tembakau (Nicotania tabacum) sebaiknya ditanam sore hari dan dibantu dengan naungan gedebok pisang.
2.Menyiram bibit yang belum mampu nglilir di lapangan. Tentu saja dipertimbangkan bila curah hujan < 7 mm
3.Pembumbunan tanah utamanya pada Zingiberaceae, yang mengharapkan rimpang yang besar, pembumbunan tanah diantara barisan tanaman untuk memperbaiki aerasi. Saat pertumbuhan rimpang cepat yaitu + 2 bulan setelah tanam.
4.Pemupukan perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman obat. Empat tepat pemupukan perlu diperhatikan :
a.Tepat jenis pupuk
b.Tepat waktu pemupukan
c.Tepat dosis pupuk
d.Tepat cara pemupukan
Pertimbangan pemakaian pupuk organik dan pupuk buatan (kimia) perlu dipikirkan, sebagai contoh tanaman obat yang memproduksi rimpang dan umbi pupuk organik wajib dilakukan dan pupuk buatan perlu diberikan untuk pertumbuhan vegetatifnya.
Pemupukan N (pupuk buatan) dapat meningkatkan alkaloida dalam akar pada pule pudak (Rauvolfia serpentina), demikian juga dapat meningkatkan kadar minyak pole (Mentha arvensis).
Saat yang tepat pemberian pupuk juga akan mempengaruhi hasil. Bagi tanaman obat perenual saat yang tepat pada awal dan akhir musim hujan, hal ini erat hubungannya dengan proses larutnya pupuk. Baik pupuk buatan maupun pupuk organik. Pemupukan di musim kemarau resiko plasmolisa akan terjadi. Pada annual dapat diberikan sesuai jadwal pemupukan atau hasil bahan obat yang diharapkan, annual plant air mudah terjangkau saat pemupukan.
Dosis pupuk adalah banyaknya pupuk yang diberikan pada tanaman, kurang dan kelebihan dosis anjuran tentu akan merugikan bagi tanaman maupun pemiliknya. Pupuk organik utamanya pupuk kandang dosis 3 ton/ha merupakan dosis terendah. Pada kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dosis 30 ton/ha dapat meningkatkan 7,5 kali daun segar dibanding tanpa dipupuk.
Cara pemupukan penting diperhatikan sifat masing-masing pupuk, pupuk yang cepat larut dan mudah menguap sebaiknya dibenam + 5 cm dalam tanah, contoh Urea, ZK dan TSP. Tanaman tahunan pupuk diberikan 1 – 1 ½ m dari pokok secara melingkar. Tanaman remaja yang tajuknya tidak lebih dari 1 m diberikan tepat dibawah tajuknya.
Tanaman obat obligat telah memiliki dosis pupuk anjuran masing-masing.
Tabel 1. dosis pupuk anjuran
Tanaman Obat
Kg / Ha
Ton / Ha
N
P
K
Pupuk Kandang
Jahe
Kunyit
Kencur
Kapulogo
100
45
60
100
60
45
50
75
100
50
45
75
10-13
10
3
5

5.Pemulsaan setelah tanam akan memberikan kelembaban tanah yang tinggi, sehingga dapat mendorong perkecambahan Zingiberaceae. Sudiarto (1978) mulsa daun alang-alang, jerami dapat meningkatkan hasil 35 % dibanding tanpa mulsa.
6.Penyiangan Clean Weeding kecuali dapat menekan pertumbuhan gulma, pada tanaman obat yang akan didestilasi itu harus bebas dari ikutan tumbuhan lain (herba) karena akan mempengaruhi khasiat obat, contoh pole (Mentha arvensis), kayu putih (Melaleuca leucadendron).
7.Perbaikan saluran draenase selama musim hujan terutama bagi tanaman obat yang tidak tahan genangan air, misalnya kapulogo (Ammomum kardamomum).
8.Topping/pemangkasan pucuk bagi tanaman obat simplisia daun, misalnya kembang tembaga (Catharanthus roseous). Pemangkasan pucuk dapat meningkatkan jumlah daun dan kandungan alkaloid pada akar.
9.Kastrasi bunga dilakukan dengan tujuan :
a.Meningkatkan produksi buah pada musim buah mendatang, misalnya lada (Pipper nigrum), kemukus (Pipper cubeba).
b.Meningkatkan kandungan obat, misalnya pada gadung (Dioscorea prazeri) dan gembili (Dloscorea composita) dapat meningkatkan kandungan diosgenin.
Pada pacing (Costus spasiosus) kastrasi meningkatkan kandungan diosgenin.
Pada kumis kucing (Orthosiphon aristatus) akan meningkatkan glukosa dan orthosifonin.
10.Pengaturan tanaman naungan
Tanaman pala (Miristica fragrant) pada saat muda perlu naungan, tapi pada saat produksi perlu terbuka. Agar perubahan ekosistem tidak drastis pengurangan naungan secara bertahap (Gradual).
11.Ngrendog, yaitu perbaikan postur tanaman yang merambat pada tajar, lada yang tumbuhnya tidak rindang.

Budidaya tanaman obat dalam skala besar memiliki resiko lebih besar terhadap serangan hama dan penyakit. Perlindungan tanaman dianjurkan PHT yaitu pengendalian secara fisik, mekanik, kultur teknik dan pestisida hayati.
Pengendalian secara fisik dengan cara mengumpulkan ulat/larva, lalu dimusnahkan dengan membakar. Bila kondisi serangan sudah melebihi ambang batas pengendalian, dianjurkan pengendalian dengan pestisida hayati atau nabati. Pemakaian pestisida kimia tidak dinajurkan, karena adanya residu tertinggal dalam jaringan tanaman.
Bahan pestisida nabati = Mimba (Azadiractha indica), tembakau (Nicotania tabacum) dan akar tuba (Derris ecliptica).
Bahan dicincang/ditumbuk sampai halus kemudian direndam dalam air, kemudian biarkan 1 malam.
Aplikasi dengan deterjen sebagai perekat disemprotkan pada pagi dan sore hari.
Hama gudang yang berbahaya adalah kumbang Lasioderma serricorne, larva kumbang ini merusak rimpang dan daun kering yang tersimpan di gudang. Pengendaliannya dengan fumigasi CSi dan pembersihan gudang sebelum dipakai.
Serangan lain adalah lalat utamanya pada kapulogo, disisi lain sebagai serangga penyerbuk tapi lalat sebagai vektor/pembawa bakteri Pseudomonas dan dapat pula menularkan Fusarium. Lalat ini juga berperan sebagai hama, larva memakan dan merusak rimpang.
Sampai saat ini pengendalian penyakit masih digunakan cara Seed Treathment Agremicin dan atau Benlate pada bibit rimpang, dan dengan cara mekanik yaitu mencabut dan membakar tanaman yang terserang penyakit.


TEKNIK PANEN TANAMAN OBAT

Memanen tanaman obat tidak seperti memanen komoditas lain yang mementingkan bobot/berat dalam produksinya, yang dipentingkan dalam memanen tanaman obat adalah kandungan khasiat obat.
1.Kandungan Khasiat obat tergantung daripada :
a.Cara pemungutan
b.Waktu pemungutan
c.Bagian tanaman yang mengandung obat
2.Proses biosintesis bahan berkhasiat dipengaruhi oleh :
a.Keadaan tanaman obat selama hidupnya. Kesehatan tanaman berpengaruh dalam pembentukan dan penyimpanan.
b.Lingkungan (cengkaman), berperan dalam kecepatan pembentuikan. Cahaya, suhu, kelembaban dan hujan.
3.Sifat kandungan kimia yang berkhasiat :
a.Mudah menguap
b.Mudah larut dalam air
c.Kuat teradsorpsi di jaringan.

Ketiga ketentuan yaitu kandungan kimia. Proses biosintesis dan sifat kimia tersebut diatas saling berkaitan dalam penentuan teknik memanen tanaman obat. Misalnya tanaman Klembak (Rheum officinale) memanen dimusim kemarau, karena pada musim hujan tidak mengandung senyawa antraguinon. Untuk jenis yang diambil daunnya, seperti keji beling (Stobilanthes crispus) memanennya daun yang sudah cukup umurnya, yaitu 4 – 6 bulan setelah tanam dan selanjutnya dipanen setiap 3 bulan. Daun duduk (Desmodium triguentrum) pemetikan daun dilakukan pada daun muda selanjutnya dipetik setelah 4 bulan setelah tanam dan dilanjutkan tiap 40 hari.
Buah dan biji yang dipanen harus masak betul untuk mendapatkan khasiat kimianya, sedang bila bunga diambil sebelum mekar sempurna.
Pada Zingiberaceae saat panen ditandai dengan gejala daun mulai menguning (senescense) sekitar bulan Agustus – September. Pada tanaman Atrepa belladenna yang mengandung alkaloid 41, hisosinmin terbentuk di akar kemudian dipindahkan dibagian batang/daun. Kemudian tangkai yang muda (tahun pertama) lebih banyak mengandung alkaloid dibanding di daunnya, pada saat berbunga lebih naik lagi.
Pada tanaman Artamesia cina kondisi Terpensid lakton maksimal di pucuk tanaman yang tidak mengalami pemetikan, bunga sebelumnya. Demikian pula minyak atsiri Mentha peperita maksimum pada musim berbunga. Kamper sutau terpenoid keton, terakumulasi dalam kayu amphora officinarum pada saat pokok tua 40 – 50 tahun.

Jenis organ tanaman yang dipanen :
1.Akar, umbi, dipanen diluar periode vegetasi, kadang ditunggu beberapa waktu supaya kondisi kimia lebih besar, tetapi tidak lama. Bila terlalu lama akan keras atau membusuk.
Dibersihkan dari tanah
Dibersihkan dari hama, dibuang.
2.Kortek, bagian luar dari batang/akar sampai dengan endodermis, jadi meliputi gabus, fellodermis dan parengim gabus. Alat yang digunakan congkel/menguliti terbuat dari bahan besi.
3.Daun, pada golongan herba pemanenan dilakukan sebelum bunga gugur, 2 – 3 kali setahun.
4.Bunga, cengkeh dipanen sebelum mekar.

Created by; Faried_23 April


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar